wajib baca!!!! Kunci Keharmonisan Dalam Rumah Tangga Yang Terlupakan
Sudah menjadi kebiasaan Abdul. setiap datang dari mana saja dia
langsung menuju kandang ayamnya. Binatang itu begitu menyita perharian dan
waktunya. Namun, pagi itu dia terkecut karena kandang ayamnya tergeser dan
berubah tempatnya.
Akhirnya dia marah-marah dan ngomel kepada semua orang di rumahnya. Istri
yang sedang di rumah lalu merasa tersinggung. Selama ini istrinya merasa tidak
pernah dekat·dekat dengan kandang ayam. "Saya tidak tahu dan tidak pernah
menggeser kandang ayam Ayah," kata sang istri. Tetapi Abdul telanjur marah
dan tidak mau menerima alasan istrinya. "Kalau tidak menggeser, kenapa
kandang ini berantakan posisinya?" kata Abdul dengan nada ketus.
Istrinya menangis histeris dan berujar. "Mernang. selama ini saya
selalu salah dan disalahkan terus, ugh ..ugh .. ugh." Akhirnya Abdul
terdiam dan panik melihat istrinya yang menangis lama sambil sesegukan.
Alhamdulillah, Abdul masih ada kesadaran untuk menguasai keadaan dan spontan
langsung merangkul istrinya, "Ya sudah, Ayah minta maaf, Ayah yang salah
dan biarlah kandang ayam itu berantakan, asal cinta kita tidak
berantakan,"
MEMETAKAN MASALAH
Problematika rumah tangga yang akut dan berujung perceraian seringkali
bermula dari hal-hal yang kecil. Sejatinya tidak ada masalah besar dalam rumah
tangga kecuali bermula dari konftik-konftik kecil. Inilah urgensi maaf
dalam menghadapi masalah rumah tangga. Sebab, semua rumah tangga pernah
mengalami konflik dan hal itu menjadi bumbu penyedap dalam kehidupan berumah
tangga jika dikelola dengan baik. Sebaliknya, jika tidak dikelola maka konflik
itu menjadi racun yang menghancurkan rumah tangga, Olehnya, suami sebagai
kepala rumah tangga harus memiliki kecerdasan konflik. Salah satunya dengan
memetakan dan menempatkan masalah tersebut apakah sepele atau krusial.
Pemetaan masalah akan sangat menentukan dalam penyelesaian dan energi yang
akan dihasilkan dari
masalah tersebut. Contoh kasus Abdul di atas. Dia masih ada kesadaran untuk
menempatkan kembali masalah sepele, yaitu kandang ayam yang berantakan
posisinya, Meskipun ayam itu kesayangannya dan mahal harganya, tetapi ia buru·
buru menyadari kekeliruannya, Baginya, keutuhan rumah tangga lebih berharga
dibanding seekor ayam.Namun jangan heran, ada orang lain yang mengalami masalah
serupa, tetapi karena tidak bisa memetakan masalah, kemudian berujung di
pengadilan agama. Banyak juga kasus pasangan suami istri yang bercerai hanya
karena persoalan sepele.
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan.
Di antara kebutuhan manusia adalah menikah, bertetangga.berteman. dan
bermasyarakat. Selanjumya, dalam berhubungan atau interaksi dengan orang lain,
tentu setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat salah dan dosa.
Pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang egois, yang mau menang
sendiri, dan merasa dirinya yang paling benar. Maka pantas dikatakan manusia
itu tempatnya salah dan lupa. Kesalahan dan kelalaian itu sudah menjadi sifat
bawaan setiap manusia. Namun menjadi tidak wajar kalau tak belajar dari
kesalahan dan lupanya tersebut.
Timbulnya permasalahan rumah tangga tidak lepas dari pihak yang salah atau
lupa. Potensi itu sangat besar, karena interaksi suami istri sangat intens.
Ditambah jika ada rasa paling benar dan menyalahkan pasangannya. Tentu saja
akan terjadi friksi atau pertentangan, saling menyerang, dan saling
menyalahkan. Sebab tidak mudah orang itu untuk disalahkan dan diserang dengan
kesalahan yang tidak dia lakukan.
MAAF ADALAH KUNCINYA
Meminta maaf dan memaafkan adalah salah satu kunci untuk menghilangkan
konflik dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala rumah tangga harus memiliki
keberanian untuk meminta maaf atau memaafkan jika ada pertikaian dalam rumah
tangganya.Kata inilah yang sebenarnya bisa meredakan ketegangan suami
istri,menghapus semua dendam dan permusuhan, meretas kesalahpahaman, merekatkan
kerenggangan hubungan suami·istri, menumbuhkan rasa saling percaya,
menjernihkan suasana, dan segala hal yang berhubungan dengan masalah hati.
Apalagi, jika kata itu diucapkan dengan perasaan tulus ikhlas, tanpa
berharap apapun.Menurut Harun Yahya, memaafkan adalah salah satu perilaku yang
membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan
setiap orang, apalagi suami·istri. Maaf memiliki kekuatan menyembuhkan dan
memperbarui.Meminta maaf dapat menenangkan jiwa dan membuat orang merasa
dihargai.
Sayangnya, masih ada juga suami atau istri yang enggan mengungkapkan kata
simpel itu. Bahkan mereka cenderung mengucapkan banyak kata tidak perlu yang
justru hanya memperkeruh suasana. Tidak perlu gengsi, segan, atau malu untuk
meminta maaf atau memaafkan pasangannya.
KETULUSAN BUKAN BASA-BASI
Manusia yang baik bukannya tidak pernah berbuat salah. Tetapi, manusia yang
baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya, segera memperbaiki diri,
bertaubat kepada-Nya, dan meminta maaf kepada pihak yang terkait. Rasulullah
SAW bersabda, "Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal
apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan
oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham,
karena jika orang tersebut memifiki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi
untuk melunasi .kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka
ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi." (Riwayat
al-Bukhari)
Dari Hadits ini jelaslah bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika
kita berbuat kesalahan kepada orang lain. Apalagi kepada pasangannya yang
selalu menyertai hidupnya sehari· hari.Kata maaf tidak selalu harus diucapkan
oleh seorang yang bersalah, tetapi juga baik untuk dikatakan bagi orang
yangjustru sebenarnya tidak bersalah.
Jika orang itu mengalami konflik kecil dengan istri atau anak, misalnya.
Maka singkirkan semua perasaan yang menghambat untuk mengawali meminta maaf.
Permintaan maaf yang tulus adalah pernyataan penyesalan yang dinyatakan secara
tepat, tulus, dan pantas oleh pasangan.Hingga setiap pasangan merasakan manfaat
dari energi maaf. Energi yang mempunyai kekuatan mengurangi stres psikologis
dan fisiologis dari masing·masing pasangan. la akan terasa di jiwa.Menjadikan
masing·masing bisa bernapas lega, merasakan keringanan di hati dan pikiran
sekaligus. Insya Allah
Semoga dengan tulisan ini bisa membantu kita dalam menjaga keharmonisan rumah tangga kita sendiri,,sehingga mawaddah warrahmah amiiiiin


Comments
Post a Comment