Janganlah seperti katak dalam tempurung
Allah Ta'ala telah
memuliakan manusia dengan memberinya karunia khusus, yakni qudrah (kemampuan)
untuk berinteraksi dengan realitas gaib (metafisik).Ini berbeda dengan dunia
binatang yang dunianya sempit. Mereka hanya mampu mengindera lingkungan
sekitarnya saja. Dengan karunia itu, manusia bisa memiliki pandangan
(tashawwur), pemikiran (fikrah), orientasi (ittijah), tindakan yang lebih
luas dan lebih dalam dibanding binatang.
Tapi kehidupan yang jahiliah telah memenjarakan
manusia. Inderanya menjadi terbatas, derajat kemanusiaannya pun turun.
Padahal, Allah Ta'ala menciptakan manusia dalam
susunan jasmani dan struktur ruhani yang terbaik. Materialisme telah
memaksa manusia memandang dirinya hanya terdiri dari· susunan
:fisik belaka. Padahal, manusia memerlukan gizi jasmani dan nutrisi
ruhani.
Mengembalikan Keluasan
Ketika manusia dilepas dari ruhaninya, diceraikan dari Tuhannya, maka manusia akan menjadi makhluk yang hidup dalam kesempitan. Agar manusia kembali kepada ke'utuhan jiwanya, dan luas cakrawala kehidupannya, perlu dilakukan langkah-langkah kongkrit berikut ini.
1. Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah bagian sangat kecil (titik) dalam susunan tata surya ini. Manusia tidak mampu menjangkau keluasan penciptaan-Nya, kebaikan-Nya, ilmu-Nya, rahmat dan ampunan-Nya. Karena itu manusia tidak boleh memposisikan diri seperti katak dalam tempurung. Manusia tidak boleh berhenti mencari tahu atau belajar.
Firman Allah Ta'ala,
Ketika manusia dilepas dari ruhaninya, diceraikan dari Tuhannya, maka manusia akan menjadi makhluk yang hidup dalam kesempitan. Agar manusia kembali kepada ke'utuhan jiwanya, dan luas cakrawala kehidupannya, perlu dilakukan langkah-langkah kongkrit berikut ini.
1. Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah bagian sangat kecil (titik) dalam susunan tata surya ini. Manusia tidak mampu menjangkau keluasan penciptaan-Nya, kebaikan-Nya, ilmu-Nya, rahmat dan ampunan-Nya. Karena itu manusia tidak boleh memposisikan diri seperti katak dalam tempurung. Manusia tidak boleh berhenti mencari tahu atau belajar.
Firman Allah Ta'ala,
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
"Hai
jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru
langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan."
(Ar-Rahman [55]: 33)
2. Manusia harus menyadari kehadirannya di dunia ini
bukan tanpa sebab. Ada Zat Yang Maha Agung yang menghadirkannya, lalu
tumbuh menjadi janin, bayi, balita, remaja, dewasa, dan tua. Manusia harus
tunduk pada fenomena penciptaan-Nya.
Firman
Allah Swt
(28)كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Mengapa
kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah
menghidupkan
kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian
kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?" (al-Baqarah [2]: 28)
3· Manusia harus senantiasa membaca ayat-ayat
nafsiyyah (kejiwaan) bahwa bahan baku manusia terdiri dari
susunan fisik dan ruhani. Sehingga manusia akan
menjalani kehidupan ini dengan berusaha memenuhi kedua
kebutuhan dirinya secara utuh dan seimbang.
Firman Allah Swt,
Firman Allah Swt,
(71)إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(72)فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah"(71).
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud
kepadanya"(72).
4. Karena bahan baku manusia sangat berharga,
tentu kehadirannya di dunia ini tidak sekadar main-main,
tetapi membawa misi kehidupan yang mulia.
Firman Allah Swt;
(115) أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
(116) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya
Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami?(115). Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang
Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang
mulia.(116)"
Begitu juga firman Allah:
(56) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku".(56)
Agar sukses dalam mengembara di dunia (rihlatul
hayah) dan selamat diakhirat, maka perlu mematuhi rambu-rambu
Allah, karena Dialah yang memberi kehidupan dan maha mengetahui
rahasianya.
Firman Allah Ta'ala;
(38) قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Turunlah
kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka
barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas
mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".(38)
(39) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Adapun
orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya."(39)
5. Manusia harus menyadari bahwa hasil akhir dari
ujian di dunia ini adalah mendapat penghargaan (lulus) dan
masuk surga-Nya, atau gagal dan masuk ke dalam neraka-Nya. Jika tidak
ada balasan yang setimpal, maka alangkah tidak adilnya Allah. Tidak sama
antara orang taat kepada-Nya dan orang yang durhaka. Seseorang itu akan
mengakhiri kehidupannya sesuai dengan hobinya di dunia. Jika ia hobi
berdosa ia akan meninggal dalam keadaan su'ul khatimah.
Sedangkan jika ia hobi taat kepada-Nya ia akan wafat
dalam keadaan husnul khatimah. Maka ia harus selektif dalam
memilih hobi.
6. Manusia harus sering menengok kehidupan masa
lalu sebagai bahan pelajaran ('ibrah) dan jembatan
menuju kesuksesan ('ubur) di masa yang akan datang. Manusia
perlu mempelajari sejarah secara lebih cermat agar dirinya
tidak jatuh dalam lubang yang sama.
Firman Allah Swt;
(137) قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
"Sesungguhnya
telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di
muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul)."(137)
Tolak ukur keluasan cakarawala seorang manusia
adalah ketika ia bisa menjawab dengan memuaskan lima
pertanyaan mendasar: Siapakah dirinya? Siapakah yang
menghadirkan dirinya di dunia? Untuk apa dirinya didatangkan ke
dunia? Setelah ini ia mau kemana? Jika kelima perlanyaan
fundamental di atas tidak bisa dijawab oleh manusia dengan baik, yang
bisa memuaskan pikiran dan hatinya, maka ia akan mengalami krisis
makna kehidupan (kegersangan dan kegoncangan kehidupan di dunia ini).
Belajar dari Ummu Sulaim
Ummu Sulaim adalah ibu dari sahabat Anas bin Malik. Nama aslinya adalah Sahlah. la dilamar oleh Zaid yang dikenal dengan nama panggilan (kunyah) Abu Thalhah, dengan mahar masuk Islam.
Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim dikaruniai seorang anak yang dikenal dengan nama panggilan Abu Umair. Anaknya sehat, periang dan berparas ganteng. la senang bermain dengan burung peliharaanya, nughair.
Ummu Sulaim adalah ibu dari sahabat Anas bin Malik. Nama aslinya adalah Sahlah. la dilamar oleh Zaid yang dikenal dengan nama panggilan (kunyah) Abu Thalhah, dengan mahar masuk Islam.
Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim dikaruniai seorang anak yang dikenal dengan nama panggilan Abu Umair. Anaknya sehat, periang dan berparas ganteng. la senang bermain dengan burung peliharaanya, nughair.
Suatu ketika Abu Umair sakit, sedangkan Abu Thalhah harus ke luar rumah
untuk satu keperluan. Akhirnya Abu 'Umair wafat ketika Abu Thalhah belum
pulang. Namun. Ummu Sulaim begitu tegar menerima ujian dari Allah itu.la
herniat merahasiakan berita kematian anaknya agar tidak mengusik ketenangan
hati suaminya.la kemudian memandikan jenazah anaknya,
kemudian diletakkan di satu sudut rumahnya. Tak seorang pun
mengetahui berita duka ini. Sesudah itu ia berdandan dengan
mengenakan pakaian yang terbaik dan menyediakan hidangan yang
disukai suaminya.
Ketika suaminya datang dan menanyakan kondisi anaknya, Ummu Sulaim menjawab dengan kata-kata kiasan bahwa anaknya sudah lebih tenang. Malam itu suaminya dilayani di meja makan dan di tempat tidurnya dengan spesial, sampai ia tidur pulas, karena tidak ada yang mengganggu pikirannya sedikit pun.
Keesokan harinya barulah Ummu Sulaim membuka rahasianya. "Wahai suamiku, bagaimana pendapatmu ketika ada yang menitipkan sesuatu kepada sesorang dan diambil kembali oleh pemiliknya, tapi orang yang dititipi itu marah?" tanya Ummu Sulaim dengan lembut.
"Tidaklah boleh bersikap begitu," jawab Abu
Thalhah tegas. "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un. Anak kita
adalah pinjaman belaka, dan Allah telah meminta agar
kita mengembalikannya," ungkap Ummu Sulaim tenang.
Abu Thalhah terkejut, tapi ia langsung sadar akan ketentuan Allah atas anaknya. Kemudian ia shalat Shubuh bersama Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa yang dialaminya. Kemudian Rasulullah mendoakan Abu Thalhah dan isterinya, agar Allah memberkahi hubungan keduanya semalam.
Doa Rasulullah dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Setelah beberapa waklu mereka memperoleh anak yang diberi nama Abdullah. Selanjutnya bertambah lagi hingga menjadi sembilan. Semuanya penghafal al-Qur'an.
Abu Thalhah terkejut, tapi ia langsung sadar akan ketentuan Allah atas anaknya. Kemudian ia shalat Shubuh bersama Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa yang dialaminya. Kemudian Rasulullah mendoakan Abu Thalhah dan isterinya, agar Allah memberkahi hubungan keduanya semalam.
Doa Rasulullah dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Setelah beberapa waklu mereka memperoleh anak yang diberi nama Abdullah. Selanjutnya bertambah lagi hingga menjadi sembilan. Semuanya penghafal al-Qur'an.
Ummu Sulaim mampu menciptakan suasana gembira
sekalipun sedang menghadapi musibah. la berkhidmat kepada suaminya
dengan sepenuh jiwa. la mampu menahan kesedihannya dan mengalihkan serta
mengelolanya menjadi kegembiraan.
♦Wallahu a'lamu bish shawab♦(banyak sumber)
♦Wallahu a'lamu bish shawab♦(banyak sumber)


Comments
Post a Comment