Rasulullah sang teladan pun memakai cincin batu
Dalam Islam memakai cincin atau batu
akik
adalah salah satu praktik berhias yang dibolehkan.
Seseorang sah-sah saja jika merasa dan
mendapati dirinya lebih rapi atau tampak lebih indah
ketika mengalungkan cincin di jari manis atau kelingking
tangannya. Meski demikian, hendaknya kebolehan ini tak ditunggangi
oleh perbuatan yang berlebihan, apalagi sampai memiliki
keyakinan tertentu ketika memakainya.
Sebab Nabi SAW pun ketika memakainya
hanya sebatas hiasan tangan saja atau digunakan sebagai stempel (khatam) untuk
surat menyurat dakwah yang dikirim ke berbagai penguasa di luar jazirah Arab
ketika itu. Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu
anhu menceritakan,cincin Nabi SAW dari perak dan matanya adalah
Habasyi. (Riwayat Muslim, dishahihkan oleh al-Albani).
Ada beberapa pendapat yang menyertai kata
Habasyi tersebut.Sebagian menyatakan hal itu menunjukkan ke daerah asal batu
tersebut, yaitu di salah satu wilayah Mrika. Yang lain memaknainya sebagai
salah satu jenis batu akik. Sedang cincin Rasulullah SAW yang digunakan untuk
stempel memiliki ciri bertuliskan lafadz "Muhammad
Rasulullah" yang diukir di bawah tulisan "Allah" seperti yang
diriwayatkan Imam Muslim.
Tentunya sebagai adab, ukiran nama
"Allah" diletakkan di atas nama Nabi Muhammad SAW. Meski
hukum asal memakai batu akik adalah mubah, boleh jadi seseorang terjerumus
kepada dosa jika berlebihan (israj) dalam
penggunaannya.Termasuk perbuatan israfjika sampai
menderetkan batu akik diseluruh jari-jari tangannya.
Atau ia disibukkan setiap waktunya dari
menggosok batu akik, misalnya, hingga ia lalai dari beribadah dan sejumlah
kewajiban-kewajiban lainnya.
Sebab tak jarang, ada yang
bisa larut berdiskusi hingga berjam-jam lamanya hanya
untuk membandingkan jenis-jenis batu akik yang ada. Adapula yang rela
berburu berhari-hari dengan biaya yang tak
terkira jumlahnya. Semua itu tentunya, sadar tidak
sadar adalah perbuatan berlebihan (israj) dan termasuk
perilaku boros (tabdzir).
TIDAK TERBAWA BUJUK RAYU SETAN
Selain berlebih-lebihan dan boros,
jebakan setan berikutnya yaitu sombong atau merasa diri
lebih baik daripada orang lain. Fenomena batu akik
kini tak lagi menjadi hiasan jari tangan saja, tapi berubah menjadi ajang
pamer atau unjuk diri di hadapan orang lain.
Sudah jadi rahasia umum, perbedaan jenis
dan kualitas batu akik menjadikan harganya juga ikut bersaing dan
bervariasi. Mulai dari harga puluhan ribu hingga miliaran
rupiah. Ironisnya, budaya materialisme dan hedonisme itu mulai
merambah ke persoalan batu akik juga. Seseorang lalu
diukur kemuliaan dan status sosial di tengah
masyarakat hanya dengan melihat pada harga yang melingkar di jemari
tangannya.
Jika perbuatan di atas
tercela dan dilarang hanya karena mengotori hati manusia,
maka tentunya perbuatan yang menodai aqidah jauh lebih pantas untuk dihindari.
Dalam hal ini, seorang Muslim tak boleh memiliki keyakinan apapun dalam
mengenakan cincin batu akik. Sebab, ia hanya berupa batu lalu dijadikan sebagai
hiasan yang elok dipandang mata.
Batu-batu itu tak memiliki kandungan unsur
yang bisa menyembuhkan penyakit atau menyehatkan seseorang. Apalagi jika
diyakini batu-batu tersebut sanggup mendatangkan keselamatan dan keberuntungan
dalam kehidupan jelas itu dilarang.
Suatu saat Nabi SAW menyuruh seseorang
membuang benda yang diyakini sebagai jimat yang menyembuhkan
penyakitnya. "Apa ini?" tanya Rasulullah SAW. Lakilaki itu
menjawab tiwalah, untuk mengobati penyakit pinggang yang dideritanya. Mendengar jawaban itu,Rasulullah SAW
langsung menyuruh mencampakkan
benda itu. "Buanglah jimat itu! (sesungguhnya) jika
kamu mati sedangkan jimat ini masih melekat padamu, maka kamu
tidak akan beruntung selamanya."
Ketegasan Nabi SAW dalam kisah
tersebut hendaknya menjadi warning bagi siapa saja
pengguna batu akik. Agar seseorang mampu memilah dan mematok niat
yang benar ketika ingin mengenakan batu akik.
Sebab ia bukan sekadar perkara
"suka-suka" diri dalam memakai cincin.
la bukan pula hanya semata hobi dan kesenangan atau seni yang
indah saja. Lebih dari itu, batu yang hanya
berukuran kecil itu bisa menentukan nasib seseorang
di hari Kiamat nanti. Wallahu a’lam bisshawaf.

Comments
Post a Comment