Tak Selamanya Harus Mengalah, Mengalah harus karena perintah-Nya, logis, dan tak menyia-nyiakan diri sendiri

Mengalah harus karena perintah-Nya,
logis, dan tak menyia-nyiakan diri sendiri.


Kejadian itu berlalu hampir sepuluh tahun yang lalu.
Sebenarnya. Sarah tak cukup mengerti apa yang mendorongnya melakukan hal itu. Masih jelas dalam ingatannya. bagaimana ia akhirnya harus mengorbankan harapannya yang hampir mendapatkan kepastian.Semua itu bermula saat sahabatnya mengungkapkan perasaannya tentang seseorang. Seseorang yang juga diinginkannya . Seseorang yang telah menyarakan kepastian dan pihak keluarganya juga telah menganggapnya sebagai bagian yang segera melengkapi.

Namun. hatinya sungguh tak kuasa melihat sahabatnya menangis. Menyatakan bahwa hatinya begitu dalam menginginkan seseorang itu. Walau sang sahabat belum mengetahui bahwa sesungguhnya dirinya hampir mendampingi seseorang tersebut. Bimbang. Kekalutan mengisi hari· harinya. Udara persaudaraan yang begitu kuat akhirnya mengalahkan semua fakta yang mengharuskannya untuk mengatakan kondisi yang sebenarnya. Akhirnya satu keputusan pun diambilnya: mengalah.

Dengan kesedihan yang tak pernah diketahui oleh sahabat dan seseorang yang juga diharapkannya. ia pergi menjauh. Walau hal itu membuatnya terluka hingga sekarang.ia tetap mengalah. Meski kini ia juga harus menahan kelu, saat mendapati kenyataan, bahwa sahabatnya justru mendampingi orang lain dan seseorang itu juga menikahi orang lain. 

Terkadang, dirinya tercenung,apakah ini hukuman dari Allah SWT karena dirinya terlalu "percaya diri"mengambil keputusan, tanpa terlebih dahulu bertanya pada-Nya? Ataukah ini salah karena mengalah? Namun, apapun itu, ia tetap menyadari bahwa seperti apapun kenyataan yang mesti dijalaninya hari ini, semuanya adalah kehendak-Nya yang harus disyukuri. Hanya saja ia mencoba belajar bahwa tak selamanya mengalah itu berarti  berbuah kebaikan untuk semua pihak.

BUKAN KARENA EMOSI 

Bagi Sarah dan berjuta perempuan lainnya. mengalah. sebuah kata yang hampir tak pernah absen dari hari-hari kehidupan. Walau mengalah memang bukan berarti kalah. alangkah baiknya jika setiap perempuan mencoba memahami bahwa mengalah. bila memang harus dilakukan. haruslah berdasarkan pertimbangan yang kuat dan logis. 

Sebagaimana sikap mengalah Rasulullah SAW saat harus menyepakati perjanjian Hudaibiyah. Beliau melalui bimbingan Allah SWT. dengan cerdas menyepakati klausul­-klausul yang disodorkan oleh kaum Quraisy. Meskipun. banyak Sahabat yang berkeberatan. Namun. dengan kecerdasannya. Rasulullah SAW berhasil melihat bahwa perjanjian itu sebenarnya adalah pengakuan kaum Quraisy atas kedaulatan kaum Mukminin. Maka, sejatinya, mengalahnya Rasulullah SAW adalah kemenangan atas ketidakberdayaan kaum Quraisy untuk menghalang­-halangi manusia memeluk Islam. Kita juga mencoba memahami bahwa mengalah. seharusnya bukanlah berdasarkan apa yang diyakini oleh emosi. 

Mengalah haruslah karena perintah Allah SWT atau Rasul-Nya yang mulia. Seperti para istri Rasulullah  yang mengalah untuk tetap berpuas hati dengan apa yang diberikan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.  sedangkan rampasan perang ketika itu sangat berlimpah.Sungguh. yang dikedepankan bukanlah apa yang mereka inginkan. bukan apa yang dianggap benar oleh hati mereka. juga bukan apa yang dianggap seharusnya oleh orang banyak. Semua keputusan harus benar-benar dalam kendali kehendak-Nya.

Bahwa setiap keputusanpun bukan semata diambil seperti yang kita angankan. Sungguh keliru. manakala menganggap bahwa  mengalah adalah jalan terbaik yang akan membahagiakan semua pihak. Sebagaimana Sarah telah lupa bahwa tipu daya setan senantiasa menjerat manusia dengan berbagai cara, salah satunya dengan membangkitkan angan-angan kosong yang sebenarnya belum tentu terjadi. Padahal. Allah SWT telah berfirman.
"Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, ia menderita kerugian yang nyata. (Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan·angan kosong pada mereka, padahalsetan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka." ( An­ Nisaa [4]: 119-120) 

CINTAI DIRI SENDIRI 

Satu hal lagi yang menjadi pelajaran berharga bagi kita adalah bagaimana kita harus dapat mencintai diri sendiri. Bahwa kita tidak boleh mengabaikan apa-apa yang berharga untuk diri sendiri. Meskipun, mengabaikan diri sendiri dan mengalah untuk orang lain merupakan hal yang sering dimaklumi bagi sebagian besar perempuan. Namun, sungguh itu pilihan yang buruk untuk menjalani hidup. 

Betapa banyak perempuan yang merasa bersalah manakala mereka mengedepankan kepentingannya sendiri sebelum kepentingan keluarga atau orang·orang di dekatnya. Mereka merasa bahwa mencintai diri sendiri dan mendahulukan kepentingan sendiri adalah hal yang paling egois.

Padahal, sejatinya, tidaklah seperti itu. Mencintai diri sendiri dengan memenuhi kebutuhan yang harus tercukupi adalah bekal untuk mencintai orang lain dengan baik. Seorang ibu yang tidak memperhatikan kapan ia harus beristirahat dan kapan ia harus makan, tidak dapat memberikan kasih sayang yang maksimal pada anaknya. la akan cepat jatuh sakit dan cenderung berpikir negatif pada kewajiban yang harus dilakukannya.

Maka, bersikap adillah pada diri sendiri. Mengalah dan membiarkan diri kita sebagai yang dikorbankan hanya akan membawa kita pada pola pikir karban, yang cenderung menyalahkan orang lain, meratapi diri, dan seringkali terkungkung dalam ketidakberdayaan. Tegakkanlah dalam benak bahwa kita pun berhak untuk merasakan kebahagiaan. Karena, dengan mengenali rasa bahagia itu, kita akan dengan baik menghadirkan kebahagiaan yang serupa untuk orang lain.

Seiring dengan kita mencintai diri kita sendiri, maka orang lain pun akan mencintai sekaligus menghargai diri kita. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat membahagiakan diri? 
Pertama, belajarlah untuk mengatakan tidak. Yakinlah bahwa perasaan kita mungkin tak nyaman saat akan melakukannya, tetapi kebimbangan itu akan berganti dengan rasa merdeka yang luar biasa saat kita telah berhasil menyatakannya.Bukankah Allah SWT juga menghendaki kita menjadi hamba yang merdeka dengan memerintahkan kita berkata "tidak" pada Tuhan selain-Nya? 

Selanjutnya, biasakanlah untuk bersikap asertif. Artinya, mampu mengungkapkan apa yang kita rasakan dengan baik dan tetap menghargai orang yang kita ajak bicara. Yakinilah bahwa apapun yang kita rasakan, semuanya sah untuk kira rasakan. Hanya saja, kita perlu menyampaikannya pada orang lain dengan baik dan terkendali.

Menyalahkan diri, hanya karena apa yang kita rasakan, dapat memicu frustasi dan depresi. Karena, kita  adalah manusia biasa yang memiliki emosi. Namun, kita akan memiliki  nilai tambah manakala kita dapat mengendalikan emosi tersebut, menyampaikannya dengan baik, dan justru dapat menjadikan apa yang kita rasakan sebagai penambah kenyamanan hubungan kita dengan orang lain. 

Maka, jika kita memang harus mengalah sekalipun, keputusan yang kita ambil bukan hanya berdasarkan rasa kasihan, apalagi karena tidak berdaya. Karena, kita telah dibekali Allah SWT kemerdekaan, kecerdasan,dan cinta untuk menjadi yang terbaik. Bagi diri kita sendiri juga orang lain 
Insya allah (sumber  buku Jadilah Suami istri Bijak)

Comments

Popular posts from this blog