Subhanallah !!! Kisah Luar Biasa Antara Ulama,Kucing dan Anjing
Di Masjid Al-Azhar, Mesir, Syaikh Usamah Sayyid Al-Azhari sedang
membacakan kitab As-Syama'it Al-Muhamadiyah karya Imam At-Tirmidzi di hadapan
para muridnya. Tiba-tiba datang seekor kucing mendekatinya. Bukannya mengusir,
Syaikh Usamah malah membelai kucing itu dengan lembut. Merasa diterima
dengan baik, 'si meong' makin leluasa. Dia melompat ke atas mejanya Syaikh
Usamah lalu tidur-tiduran santai. Dia seakan ikut mendengarkan Syaikh Usamah
yang masih terus membacakan Hadits-hadits mengenai keutamaan
Rasulullah SAW.
Di hari selanjutnya, setiap mengajar Imam Ad-Dardir memberikan
makanan bekalnya untuk kucing hingga kucing-kucing lain pun berdatangan.Untuk
selanjutnya, setiap Imam Ad-Dardir masuk ke Masjid Al-Azhar kucing-kucing pun
berdatangan dan berkumpul di kakinya hingga jumlahnya 100 ekor lebih. Syaikh
Usamah juga menyampaikan bahwa di masa Dhahir Baibres berkuasa di Mesir,
perwakafan berupa penyediaan air minum di kota- kotanya sangat digalakkan.
Bukan hanya untuk manusia, bahkan tempat minum untuk hewan-hewan pun dibangun
bertingkat. Bangunan yang tinggi untuk binatang semisal kuda dan keledai, yang di bawahnya untuk anjing, dan
yang paling bawah untuk kucing,Apa yang terlihat dari perilaku Syaikh
Usamah dan apa yang ia kisahkan mengenai akhlak para ulama terhadap hewan juga
terlihat dari para ulama klasik lainnya. Akhlak itu diabadikan dalam
kitab-kitab biografi dan sejarah. Berikut ini kisah-kisah para ulama saat
berinteraksi dengan binatang.
TlDAK MEMUTUSKAN HARAPAN ANJING
Suatu saat, Imam Ahmad bin Hanbal memperoleh kabar bahwa ada seseorang di
wilayah Wara' an Nahar (Asia Tengah) yang memiliki Hadits tsulastiyat
(Hadits yang antara orang yang mengeluarkan dan Rasulullah SAW ada tiga
perawi). Tersebab itu, Imam Ahmad memutuskan melakukan perjalanan mencari orang
tersebut.
Tiba di tempat, Imam Ahmad bertemu dengan seorang syaikh yang sedang
memberi makan seekor anjing. Imam Ahmad pun menyampaikan salam dan syaikh
tersebut membalas dengan salam pula. Namun setelah menjawab salam, ia kembali
sibuk memberikan makanan kepada anjing. Setelah syaikh itu selesai
memberi makanan pada anjing, Imam Ahmad bertanya,"Sepertinya Anda
lebih memperhatikan anjing tersebut daripada saya?" Syaikh
menjawab,"Iya, telah sampai kepadaku sebuah Hadits dari Abu Az-Zanad
dari AI-Nraj dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
'Barangsiapa memutuskan harapan siapa yang menaruh harapan kepadanya,
maka Allah akan memutuskan harapannya dari-Nya di hari Kiamat dan dia tidak
masuk surga: Dan negeri kami ini bukanlah negeri yang dihuni oleh anjing,
sedangkan anjing ini datang kepadaku, maka aku takut memupuskan
harapannya:' Mendengar jawaban itu, Imam Ahmad menyatakan,"Hadits tersebut
cukup bagi saya:' Beliau pun kembali pulang. {Ghidza' AlAlbab, As-Safarini}
ANJING PUN BERHAK ATAS JALAN
Perilaku mulia terhadap hewan juga ditunjukkan oleh Imam Abu Ishaq
As-Syirazi. Suatu saat ia berjalan bersama para sahabatnye. Di tengah perjalanan
terlihat seekor anjing berjalan berlawanan dengan arah rombongan. Salah
seorang dari mereka menghardik anjing tersebut. Menyaksikan peristiwa itu, Imam
Abu Ishaq memberi nasihat kepada sahabatnya itu, "Apakah engkau
tidak tahu, bahwa baik saya maupun anjing itu memiliki hak atas jalan
ini?" {Al-Majmu, An-Nawawi}
TIDAK MERENDAHKAN HEWAN
Bukan hanya tidak boleh menyakiti secara fisik, bahkan melakukan
perbuatan yang bertujuan merendahkan hewan pun dikecam oleh ulama. Imam
Tajuddin As-Subki mengisahkan,"Suatu saat aku duduk di beranda rumah kami
dan datanglah seekor anjing. Lalu aku mengatakan,'Paling buruk adalah
anjing anaknya anjing: Ayahku (Syaikh AI-Islam Taqiyuddin As Subki) pun
menegurku dari dalam rumah. Dan aku pun menjawab, 'Bukankah benar kalau anjing
adalah anak anjing?' Beliau mengatakan, 'Iya, (tapi) tidak boleh ada unsur
penghinaan:'(Al-lthaf As-Sadah AlMuttaqin, Az Zabidi)
MENGGUNTING BAJU AGAR TIDAK MENGGANGGU TIDUR KUCING
Mengorbankan pakaian demi kenyamanan istirahat seekor kucing dilakukan oleh
Syaikh Ahmad bin Ali Rif'ah, ulama besar penganut madzhab Syafi'i yang dikenal
karena zuhud dan akhlaknya. Suatu saat, seekor kucing tidur di kantung baju
ulama ini, sedangkan waktu shalat telah tiba. Dari pada menyuruh pergi sikucing,
Syaikh Ahmad memilih menggunting kantong bajunya agar kucing yang sedang tidur
itu tidak terusik. Setelah itu baru ia beranjak melaksanakan shalat. Dan
setelah melaksanakan shalat, Syaikh Ahmad mendapati si kucing telah
terjaga. Ia kemudian menyambung kembali kantung itu pada bajunya dengan
menjahit. Usai menjahit,ia mengomentari keadaan bajunya, "Nah, tidak ada
yang berubah kan!"Akhlak mulia Syaikh Ahmad dalam memperlakukan hewan juga
terlihat di beberapa kejadian lainnya. Syaikh Ya'kub bin Quraz merupakan
sahabat Syaikh Ahmad. Pada suatu musim dingin Syaikh Ya'qub ingin menemui
Syaikh Ahmad. Tetapi, ia mendapati sahabatnya itu sedang berwudhu
seraya memanjangkan tangan. Anehnya, Syaikh Ahmad membiarkan
tangannya tidak bergerak dalam waktu yang lama.
Syaikh Ya'qub mencoba mendekat kepada Syaikh Ahmad. "Wahai Ya'qub,
engkau telah mengganggu makhluk yang lemah ini;' kata Syaikh Ahmad. Merasa
heran, Syaikh Ya'qub pun bertanya, "Siapa dia?" Syaikh Ahmad
menjawab,"Nyamuk kecil, ia memakan rezekinya dari tanganku, lalu terbang
karena kedatanganmu:' Pada kesempatan lain, Syaikh Ya'Qub pernah
memperhatikan Syaikh Ahmad berbicara,"Wahai makhluk yang diberkahi,
aku tidak tahu kalau engkau menyertaiku, aku telah membuat engkau jauh dari
negerimu:' Ketika Syaikh Ya'kub mengamati, ternyata seekor belalang menempel di
baju Syaikh Ahmad. Dan ia merasa bersalah karena rasa kasih sayangnya terhadap
makhluk itu. (Thabaqat As Syafi'iyah Al-Kubra, As-Subki)
BURUNG MENDAPAT JATAH MAKANAN DARI BAITUL MAL
Tidak hanya para ulama, khalifah Islam pun memperhatikln nasib
burung-burung di wilayahnya. Umar bin Abdul Aziz memperoleh laporan bahwa
harta di baitul mal berlebih. Khalifah Abdul Aziz kemudian mengirim utusan
untuk menyeru kepada khalayak,"Barangsiapa menjadi pegawai negara dan
belum memiliki rumah,ia bisa membangun rumah dari harta baitul mal.
Barangsiapa menjadi pegawai negara dan belum memiliki kendaraan, maka ia bisa
membeli kendaraan dari baitul mal. Dan barang siapa menjadi pegawai negara dan
memiliki tanggungan hutang, maka ia bisa melunasinya dari baitul mal:'
Namun, setelah semua itu dilakukan temyata masih ada sisa dari harta baitul
mal, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan untuk membagikannya kepada para
faqir dari kalangan ahlul kitab hingga mereka tercukupi.
Sampai di situ kelebihan harta baitul mal masih belum habis. Khalifah
Umar bin Abdul Aziz lalu memerintahkan, "Ini adalah anugerah dari
Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Maka, sebarkanlah
gandum di puncak-puncak gunung hingga tidak ada yang mengatakan,
'Ada burung kelaparan di negeri umat Islam:'(Al-Amwal, Imam Abu Ubaid
Al-Qasim bin Salam) .
demikian dulu,,, semoga
bermanfaat.. .(berbagai sumber)



Comments
Post a Comment