mari kita bersikap secara benar!
"Sesungguhnya Nabi tidak pernah marah terhadap
sesuatu. Namun, jika larangan-larangan
Allah (telah) dilanggar, tidak ada sesuatu pun yang
dapat menghalangi rasa marahnya."
Marah, sedih, dan gembira, tentu lumrah dirasakan oleh setiap manusia. Tak
ada manusia yang bisa mengelak dari rasa tersebut.Hanya saja, seorang Muslim
telah diatur oleh Islam kapan semestinya ia marah, kapan pula seharusnya ia
bersedih,dan kapan selayaknya ia bergembira.Seorang yang beriman pasti akan
marah jika memang ia diharuskan marah, bukan malah diam saja. Begitu juga ia
akan bersedih atau bergembira ketika ia memang harus bersikap demikian,bukan
malah acuh tak acuh.
Jika seseorang tak terusik sama sekali kemarahannya ketika melihat atau
mendengar ada orang yang menghina Allah SWT dan Rasul-Nya, menginjak-injak
al-Qur'an,melecehkan simbol-simbol Islam, membantai kaum Muslim yang tak
berdaya, maka kita perlu bertanya sejauh mana imannya kepada Islam.
Jangan-jangan orang ini tak menganggap bahwa Allah SWT dan Muhammad SAW itu
penting.
Jika demikian maka sudah pasti syariat yang diturunkan oleh Allah~ juga tak
penting buatnya. Na'uzhubillah. Jika seseorang tak merasa sedih ketika
mengetahui derita yang melanda saudara-saudara kita para pengungsi asal
Suriah yang tengah berjuang menghadapi musim dingin yang ekstrim saat ini, maka
perlu kita evaluasi apakah kita belum tergolong Muslim yang beriman. Jangankan
sekadar memberi empati atau bantuan kepada mereka, sekadar ingin tahu pun
tidak. Sudah pasti, iman kita cacat. Na'uzhubillah.
Demikian pula ketika seseorang merasa lebih gembira mendengar khabar
bahwa putra kesayangannya berhasil memenangkan kontes Idol di sebuah stasiun televisi ketimbang
mendengar putra kesayangannya telah menuntaskan hapalan Qur'annya. Orang
seperti ini pastilah lemah imannya. Sebab kita tahu, orangtua yang menganjurkan
anaknya supaya bisa menghapal Qur'an, kata Rasulullah SAW kelak di akhirat akan
mendapat jubah kemuliaan yang tak pernah ia peroleh di muka bumi.
Hanya saja, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan harus diejawantahkan
secara benar. Seseorang yang menunjukkan kemarahan secara serampangan justru
akan merugikan kaum Muslim yang lain. Kemarahan yang terluapkan secara salah
berpotensi memunculkan fitnah di mana-mana, bahkan mengacaukan strategi dakwah
yang sedang dibangun. Kita patut menduga bahwa aksi terorisme yang muncul
belakangan ini, sebagaimana insiden yang terjadi di pusat perbelaanjaan
Sarinah, Jakarta Pusat, pada medio Januari lalu, disebabkan karena curahan
kemarahan yang keliru. Nah, mari kita bersikap secara benar! Wallahu a'lam
bish-shawab.

Comments
Post a Comment