Antara Risiko Dunia dan Akhirat

Hidup ini singkat. Setiap detik yang berlalu,mendekatkan kita pada kematian. Tidak peduli kita siap atau tidak, kehidupan ini akan berakhir kapan pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun. Ketika Allah Swt berkehendak, tidak ada seorang pun  bisa menundanya.

Allah Swt berfirman:
(11)وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
''Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya." (Al-Munaafiqun [63]: 11)

Tetapi mati bukan akhir segalanya. Bahkan, inilah  awal dari kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang abadi.  Di sana manusia akan menerima akibat apa yang dilakukannya selama hidup di dunia, di mana hanya ada  dua balasan ekstrim: ditempatkan di surga dan merasakan kenikmatannya yang tanpa batas; atau sebaliknya, ditempatkan di neraka dan menderita selamanya.

Pada hari Kiamat kelak, cerita Rasulullah Saw dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Allah mendatangkan seorang penghuni neraka yang hidupnya  ketika di dunia paling nikmat. Kemudian, Allah Swt mencelupkannya ke dalam neraka sejenak, lalu orang
tersebut ditanya oleh Allah Swt.
"Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan? Pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan ?"  Maka orang tersebut menjawab," Tidak, demi Allah, ya Rabb."  Setelah itu, didatangkan pula seorang penghuni surga yang hidupnya ketika di dunia paling menderita. la dicelupkan ke dalam surga sejenak, kemudian ditanya, "Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan?  Pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?" la menjawab, "Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah  merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun." 

JANGAN SAMPAI MENYESAL
Kita tentu tidak akan menganggap sepele informasi yang disampaikan Rasulullah Saw di atas. Walaupun  mungkin kita sering mendengarnya dan terasa klise, tetapi itu adalah kebenaran yang pasti. Kita tentu tidak berani mengambil risiko mempertaruhkan nasib di akhirat yang  akibatnya teramat fatal itu.
Bukankah penderitaan seberat apapun masih bisa  ditanggung selama itu masih di dunia? Banyak orang yang jauh lebih miskin dari kita, tetapi mereka bisa menjalaninya. Banyak orang yang pernah sakit lebih parah  dari kita tetapi mereka bisa menahannya.

Tetapi siapa yang sanggup menanggung penderitaan sejati di neraka? Segala kesenangan di dunia yang pernah  dinikmati para penghuni neraka tidak ada artinya dibandingkan penderitaan yang mereka tanggung. Mereka  akan mendapati kehidupan dari waktu ke waktu dengan segala penderitaan yang tidak akan pernah berakhir.  Sebagai orang yang beriman kepada Allah Saw. Rasul­-Nya, dan Hari Akhir, kita harus meyakini hal itu. Karena  sebagaimana kita telah melihat bukti adanya kematian, kita juga meyakini adanya kehidupan sesudah mati.

Allah Yang Maha Benar berulang-ulang mengingatkan kita akan datangnya hari pembalasan ini dalam al-Qur'an yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Rasulullah Saw al-shaadiq al-amin (yang jujur dan terpercaya), juga berulang-ulang menginformasikan kepada kita tentang hal itu. Adakah yang lebih kita percayai daripada Allah Swt dan Rasul-Nya?

Setiap orang pasti pernah merasakan pahit getirnya  kehidupan dunia. Tetapi semua kegetiran itu bersifat sementara. Selama ajal belum datang, masih ada  kesempatan untuk memperbaikinya. Tetapi begitu datang kematian, tidak mungkin bisa  hidup lagi di dunia ini. Dalam al-Qur'an surat As-Sajdah [32] ayat 12, Allah Swt berfirman tentang penyesalan orang­-orang yang ingin kembali ke dunia untuk memperbaiki kesalahannya.

Mereka berkata seraya menundukkan kepalanya di hadapan Rabnya, "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan  mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia). Kami akan mengerjakan amal saleh. Kami adalah orang-orang  yang yakin." . Bahkan, di antara mereka ada yang benar-benar  menyesal telah menjadi manusia. Mereka berkata, sebagaimana tertulis dalam al-Qur' an surat An-Naba (78)  ayat 40, "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah."  Begitulah penyesalan orang-orang yang tidak pernah mempersiapkan diri untuk kehidupan sesudah matinya.

DUNIA YANG MENIPU
Sebelum kita menjadi orang-orang yang menyesal di akhirat, mari kita renungkan peringatan Allah SWT tentang hakikat kehidupan yang sesungguhnya.  Allah Swt berfirman:
وَمَا هٰذِهِ الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَاۤ اِلَّا لَهۡوٌ وَّلَعِبٌ​ؕ وَاِنَّ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ لَهِىَ الۡحَـيَوَانُ​ۘ لَوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ‏
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."(Al-Ankabut [29]: 64).

Allah Swt menyebut kehidupan dunia ini sebagai senda gurau dan permainan. Tetapi lihatlah betapa manusia  malah bersungguh-sungguh berhitung dengannya dan lupa dengan hari perhitungan yang sesungguhnya.  Lihatlah bagaimana seorang pelatih klub sepak bola di Eropa bisa mengeluarkan uang triliunan rupiah untuk  membeli seorang pemain. la melatih timnya sekeras­ kerasnya, meramu strategi terbaik untuk memenangkan  setiap pertandingan. Padahal, itu hanyalah sebuah permainan.

Demikian juga, dalam mengantisipasi meningkatnya ancaman terhadap keamanan, banyak gedung dan rumah  dipasangi CCTV di setiap sudut untuk mengawasi gerak­-gerik yang mencurigakan. Begitu seriusnya manusia  menciptakan sistem pengamanan di dunia, tetapi ceroboh terhadap keamanannya di akhirat. Mereka sangat serius  dalam urusan yang risikonya hanya main-main, tetapi bermain-main dalam urusan yang sangat serius risikonya.  Bukan berarti kita tidak perlu mengurus dunia ini dengan sungguh-sungguh. Kita harus bekerja keras dan beramal saleh di dunia ini karena sadar semua akan dinilai oleh Allah Swt.Tapi kesungguhan kita bukan untuk dunia. Kesibukan kita untuk menyiapkan kehidupan sesudah  mati.
BERBEKALLAH!
Singkatnya hidup dan betapa beratnya risiko yang dihadapi setelah kematian, tentu tidak ada pilihan bagi  kita kecuali harus mengorbankan seluruh yang kita miliki untuk menyelamatkan diri dari azab di akhirat.  Seluruh waktu, kesempatan, harta, tenaga, dan pikiran, kita curahkan untuk mendapatkan kehidupan yang baik  setelah kematian nanti. Kita harus benar-benar berhitung tentang nasib kita nanti.

Pada saatnya nanti, kita akan meninggalkan kehidupan dunia ini. Kita membutuhkan bekal untuk menempuh  perjalanan abadi. Nabi Saw bersabda, "Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya,  hartanya, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga  dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya," (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Hadits ini tentu saja tidak mengajarkan kita untuk membenci harta. Sebab, itu adalah bagian dari bekal untuk  hidup di dunia. Hadits ini juga tidak mengajak kita untuk mengabaikan keluarga dan sesama. Sebab, tidak mungkin  kita hidup di dunia ini tanpa mereka.

Demikian juga dengan keluarga. Jasad mereka  memang tidak menyertai kita lagi, tetapi kebaikan yang kita tanamkan dalam interaksi kita dengan mereka akan tetap menyertai kita melalui doa-doa mereka, khususnya dari anak-anak yang saleh.
Wallahu a'lam bish Shawab.( banyak sumber)

Comments

Popular posts from this blog