Taukah Satu Akhlak Akan Menyeret Akhlak Lain ??? mari simak dan tolong di share!!
Tidak ada akhlak yang bisa bertahan sendirian. Masing-masing membutuhkan
dukungan dari akhlak lain.
Sebaliknya, suatu akhlak akan mendorong kemunculan akhlak lain. Ibarat
makhluk-makhluk dalam suatu ekosistem, setiap akhlak mulia membutuhkan
dukungan akhlak mulia lainnya. Demikian pula akhlak tercela. Pendek kata,
rusak dan punahnya suatu akhlak mulia bisa mengakibatkan rusak dan punahnya
akhlak mulia yang lain. Sama pula, kehadiran suatu akhlak buruk akan menyeret
akhlak buruk lain.
Logika di balik berantainya kebaikan dan keburukan ini dipahami dengan baik
oleh generasi Salaf, sehingga ' Urwah bin Zubair (tabi'in) berkata, "Bila
engkau melihat seseorang melakukan kebaikan, ketahuilah bahwa kebaikan itu
memiliki saudara-saudara pada diri orang tersebut:' Sebaliknya, kata
'Urwah lagi, "Bila engkau melihat seseorang melakukan keburukan,
ketahuilah bahwa keburukan itu mempunyai saudara-saudara pada diri orang
tersebut:' "Sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada
saudara-saudaranya, clan demikian pula keburukan itu menunjukkan kepada saudara
saudaranya:' (Riwayat Abu 1 Nu' aim dalam Hilyatul Auliya', II/ 177).Dari
sini kita bisa mengerti mengapa Rasulullah SAW meminta kita beramal saleh
secara kontinyu, walaupun kecil kadarnya. Sederhana saja, karena setiap kebaikan
akan memanggil kawan-kawannya, sedikit demi sedikit, waktu demi waktu, sampai
akhirnya diri kita dipenuhi aneka kebaikan dari segenap sisi.
MENYERET
SAUDARA
Ada sejumlah akhlak dan perbuatan yang bila dilakukan akan mendatangkan
akhlak dan amal lain dari jenisnya, baik yang mulia maupun tercela. Rasulullah
SAW dan ulama telah merumuskan rambu-rambunya untuk kita. Berikut ini disajikan
sebagian kecil contoh.
BERHUTANG
Sebenarnya, pinJam-meminJam dan utang-piutang adalah perbuatan lazim sejak
dahulu kala. Bahkan, ayat terpanjang dalam al-Qur'an, yakni surah A1-Baqarah
[2] ayat 282, ternyata bicara masalah utang-piutang. Bila utang piutang
dilaksanakan dengan mematuhi syariat, maka di dalamnya terkandung sifat tolong
menolong, saling percaya, menepati janji, dan meringankan beban sesama. Ini
jelas akhlak mulia dalam Islam.
Akan tetapi, mengutangi (menjadi kreditur) tentu berbeda dengan berhutang
(menjacli debitur). Tangan diatas tidak sama dengan tangan di bawah.
Meski tidak pernah melarang umatnya berutang, akan tetapi Rasulullah SAW
meminta kita berhati-hati dalam masalah ini. Sebab, berutang juga bisa menjadi
pemicu sejumlah akhlak tercela. Diceritakan oleh ummul mukminin 'Aisyah,
bahwa Rasulullah SAW sering berdoa agar terhindar dari himpitan utang. Lalu,
ada seseorang yang berkata kepada beliau, "Betapa seringnya Anda
memohon perlindungan dari utang, wahai Rasulullah:' Beliau menanggapi,
"Sungguh seseorang itu, bila terhimpit utang, ia berbicara lalu
bohong, dan berjanji lalu ingkar:· (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Mari kita amati. Ketika seseorang terhimpit utang dan tagihan datang, bisa
saja ia berbohong dan menyuruh orang lain berbohong. Atau, ia berjanji akan
segera membayar, namun ingkar. Bukankah berbohong serta ingkar janji adalah
dua di antara tiga tanda kemunafikan, selain khianat?
Na'udzu billah!
BERPRASANGKA BURUK DAN MEREMEHKAN ORANG LAIN
Keduanya jelas akhlak tercela. Kebalikannya adalah berprasangka baik dan
menghormati orang lain. Ternyata, akhlak-akhlak ini akan memicu akhlak lain
dari jenisnya, yaitu kesombongan atau lawannya tawadhu' (rendah hati).
Menurut lmam al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumiddin (III/364), prasangka baik dan
menghormati orang lain berhubungan erat dengan ketawadhuan. Ketika menjelaskan
cara melatih diri agar menjadi orang yang tawadhu, beliau menjabarkan resep
aplikatifnya. "Sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk tidak
menyombongkan diri di atas siapapun;' kata al-Ghazali.
Bahkan, jika melihat orang bodoh, kata al-Ghazali lagi, seorang hamba seharusnya
berkata, "Orang ini
mendurhakai Allah dengan ketidaktahuannya, sedang aku mendurhakai-Nya
padahal aku tahu. Dia lebih bisa dimaafkan dibanding diriku;' Jika melihat
orang berilmu, seorang hamba seharusnya berkata, "Orang ini telah
mengetahui apa yang tidak aku ketahui, maka bagaimana mungkin aku sama
dengannya ?"
Jika melihat orang yang lebih tua usianya, kata al Ghazali lagi, seorang
hamba seharusnya berkata, "Orang ini telah menaati Allah sebelum aku, maka
bagaimana mungkin aku sama dengannya?" Jika melihat orang yang lebih muda
seorang hamba seharusnya berkata, "Sungguh aku telah mendurhakai Allah
sebelum dia, maka bagaimana mungkin aku sama dengannya ?" Jika melihat
penganut bid'ah atau orang kafir seorang hamba seharusnya berkata, "Aku
tidak tahu bahwa bisa jadi hidupnya diakhiri dengan masuk Islam sementara
hidupku diakhiri dengan apa yang dilakukannya sekarang. Sebab,
langgengnya hidayah itu tidak diserahkan kepadaku sebagaimana permulaannya pun
tidak diserahkan kepadaku:' baca disini untuk lengkap nya
MAKAN
MINUM BERLEBIHAN
Makan dan minum sebenarnya perkara mubah. Namun ia bisa menjadi sangat
buruk dan mengundang aneka penyakit jika batasan dan adabnya dilanggar; baik
penyakit lahiriah maupun batiniah, termasuk di bidang akhlak.
Diantara akhlak buruk yang diam-diam "membonceng" di belakangnya
adalah egois dan tidak berempati kepada penderitaan orang lain, mudah
terpancing syahwatnya, dan malas beribadah. Abu Sulaiman ad-Darani berkata,
"Barangsiapa kekenyangan niscaya enam penyakit masuk kepadanya: (a)
kehilangan lezatnya bermunajat, (b) sulit untuk menghafal hikmah (ilmu), (c)
terhalang dari bersimpati kepada sesama makhluk, sebab ketika kenyang ia
menyangka semua makhluk juga kenyang, (d) berat untuk beribadah,(e)
meningkatnya syahwat-syahwat, dan (f) segenap kaum mukmin berkeliling di
sekitar masjid-masjid sementara orang-orang yang kekenyangan berkeliling di
sekitar tempat-tempat pembuangan kotoran:' (Ihya Ulumiddin, III/87).
GEMAR
BERDEBAT
Meski mengizinkan mujadalah (debat/adu argumen), namun al-Qur'an mensyaratkan
perdebatan itu harus dilakukan dengan cara yang paling baik (An-Nahl [16]:125).
lni mudah dimengerti. Sebab, perdebatan rawan diwarnai pelecehan dan pencemaran
kehormatan orang lain.
Padahal, sesama Muslim bersaudara. Darahnya, hartanya dan kehormatannya
haram dilanggar (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah). Rasulullah SAW
sangat tidak menyukai debat kusir (mira'), yakni sekadar menang-menangan dan
tidak dimaksudkan meraih kebenaran. Beliau bahkan menjamin sebuah rumah di
tepian surga bagi siapa saja yang mampu meninggalkan debat walaupun dia benar.
(Hadits Riwayat Abu Dawud dari Abu Umamah. Hadits hasan).
Selain melecehkan dan merusak kehormatan orang lain, di antara akhlak
tercela yang sering muncul mengiringi perdebatan adalah memutuskan silaturrahim
dan ikatan persaudaraan. Al-Ashma'i mengutip nasehat seorang ulama, "Debat
kusir merusak persahabatan lama dan mencerai-beraikan ikatan yang kokoh. Hal
paling minimal di dalamnya adalah sekedar menang-menangan, dan ia adalah
penyebab terkuat putusnya hubungan:' (Riwayat lbnu abdil Barr dalam Al-Jami',
ll/952).
AMBISI
JABATAN DAN INGIN DITOKOHKAN
Ambisi bisa membutakan nurani. Terkadang, seseorang berani menghalalkan
segala cara untuk meraih ambisinya. Baginya, tidak masalah jika harus mengorbankan
orang lain. Ambisi seperti inilah yang memicu berbagai akhlak buruk. Al-Fudhail
bin lyadh pernah mengingatkan, "Tidak seorang pun yang berambisi untuk
ditokohkan melainkan ia akan mendengki (hasud), berlaku aniaya (baghyu),
mencari-cari kejelekan orang lain, dan tidak senang bila ada seseorang yang
disebut-sebut kebaikannya:' (Riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Al-fami',
1/569).
Wallahu a'lam bish-shawab.•





Comments
Post a Comment