Inilah Dosa Besar, Mencari Kesalahan Orang Lain

"ISLAM MEMBAGI DOSA MENJADI DUA MACAM MENURUT AL-QUR-AN DAN AS SUNNAH: DOSA-DOSA  BESAR DAN DOSA-DOSA KECIL. DOSA-DOSA BESAR (AL-KABAA'IR), MENURUT SEJUMLAH ULAMA MENCAPAI  70JENIS. NAMUN, ADA JUGA YANG MENCATAT LEBIH. KALI INI SAYA INGIN MENGURAIKAN APA-APA SAJA YANG TERMASUK DOSA-DOSA BESAR AGAR KITA BISA MENGHINDARINYA"


Lebih baik sibuk mencari kesalahan sendiri daripada sibuk mencari kesalahan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita  menjumpai orang yang senang mencari kesalahan orang lain.Ketika melihat teman atau tetangganya mendapatkan kenikmatan, ia sibuk mengorek-orek  informasi kepada orang lain. Begitu pula ketika ada temen atau tetangga yang terlibat suatu masalah, dia sibuk mencari-cari aibnya.  Mencari kesalahan orang lain dilarang dalam ajaran Islam. 

lni didasarkan pada firman Allah Swt yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman,jauhilah kebanyakan berpra­ sangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain." (AI-Hujurat [ 49): 12).

Menurut para ulama, ayat tersebut  menjelaskan tentang larangan berprasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain, baik dengan menyelidikinya secara langsung atau bertanya kepada temannya. Demikian juga Rasulullah Saw bersabda, "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena  prasangka buruk adalah sedusta-dusta  ucapan. ]anganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling  memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (Riwayat Bukhari dan Muslim). 

Orang yang senang mencari kesalahan-kesalahan orang lain, mengintip  aib, harga diri, dan keadaan mereka, serta ikut campur dalam urusan-urusan mereka tidak akan mendapatkan kebaikan sedikit pun.

Bahkan ia  mendaptkan dosa karena hal tersebut merupakan bagian dari kemaksiatan. lbnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah (XIII/121) menjelaskan, Sufyan  bin Husain pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan lyas  bin Mu'awiyyah. lyas pun memandangi wajah Sufyan seraya berkata, "Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?" Sufyan menjawab, "Tidak".  lyas bertanya lagi, "Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?"  Sufyan juga menjawab, "Tidak". Akhirnya lyas berkata, "Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang Muslim tidak selamat dari kejelekanmu?" Setelah kejadian itu,  Sufyan tidak pernah lagi mengulangi perbuatan seperti itu. 

Islam memerintahkan umatnya  untuk berbuat adil dan tidak hanya melihat kesalahan-kesalahan orang lain.  Seorang mukmin tidak boleh hanya melihat kejelekan-kejelekan orang lain  tanpa melihat kebaikan-kebaikannya.

Rasulullah Saw bersabda, ''janganlah seorang lelaki mukmin membenci  seorang wanita mukminah! jika dia membenci akhlaknya, bisa jadi dia suka pada hal lainnya." (Riwayat Muslim). Hadits ini menjelaskan agar seorang  lelaki mukmin tidak membenci seorang wanita mukminah karena keburukan  akhlaknya. Sebab ia tidak sedang bermuamalah dengan malaikat, akan tetapi dengan manusia yang pasti memiliki aib dan tidak terjaga dari kesalahan. 

Setiap orang, termasuk kita tidaklah lepas dari kesalahan dan aib. Oleh karena itu, tidak boleh melihat orang lain dari keburukannya semata, tetapi juga harus melihat kebaikan­kebaikannya.

MENUTUP AIB ORANG = AIB SENDIRI 

Mencari dan menyebarkan kesalahan orang lain termasuk dosa  besar. Allah Swt juga mengancam orang seperti ini dengan azab yang pedih.

Dalam Al-Qur'an Allah 'azza  wa jalla berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.  Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (An-Nuur [24]: 19). 
Mengintai aib dan kesalahan kaum Muslimin dapat menyebabkan  kerusakan di antara mereka, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Hadits dari Mu'awiyah, dia berkata, "Aku telah mendengar Rasulullaah Saw bersabda: 'Sesungguh­ nya jika kamu mencari-cari kejelekan manusia, maka kamu telah merusak mereka atau hampir merusak mereka'." Abu Darda menimpali, "ltu adalah  sabda Rasulullaah yang telah didengar oleh Mu'awiyah dan Allah telah  memberikan manfaatnya dengan sabda tersebut"." (Riwayat Abu Dawud).

Abu Hatim bin Hibban AI-Busti dalam kitab Raudhah AI-'Uqala menjelaskan bahwa orang yang berakal, wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan  perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya  sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan  orang lain, hatinya akan tentram dan tidak akan merasa lelah. Setiap kali melihat kejelekan yang ada pada  dirinya, dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. 

Orang beriman diperintahkan berusaha menjahui perbuatan yang tidak berguna dan merusak dirinya. Rasulullaah Saw bersabda,"Di antara ciri kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perbuatan yang tidak berguna baginya." (Riwayat Tirmizi dan lbnu Majah).

Hadits ini menjelaskan bahwa  orang yang suka meninggalkan perkara yang tidak berguna, yang tidak ada kepentingan, dan tidak ada kemaslahatan baginya berarti memiliki keislaman yang baik. Sebaliknya, orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan  sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.  Bahkan orang beriman diperintahkan untuk menutupi aib atau kejelekan orang lain. Sebab orang  yang senang menutupi kejelekan saudaranya di dunia, kelak Allah akan  menutupi kejelekannya di hari Kiamat.(Riwayat Muslim).

Dalam kitab Jami'ul Ulum wal Hikam (2/291) disebutkan sebuah  riwayat tentang seorang ulama salaf yang menyaksikan orang-orang yang  tidak memiliki cacat atau cela, tetapi mereka membicarakan aib orang lain.  Maka orang lain pun menceritakan aib­ aib mereka. Kemudian dia menemukan  sekelompok orang yang memiliki aib, namun mereka menahan diri dari  membicarakan aib manusia yang lain, sehingga manusia pun melupakan aib mereka.

Menurut Abu Hatim, tajassus  adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka  yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih  dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk  kepada saudaranya dan tidak segan­ segan berbuat jahat dan membuatnya  menderita.♦ berbagai sumber♦
ORANG YANG BERAKAL AKAN BERPRASANGKA BAlK KEPADA SAUDARANYA, DAN TIDAK MAU MEMBUATNYA  SEDIH DAN BERDUKA. SEDANGKAN ORANG YANG BODOH AKAN SELALU BERPRASANGKA BURUK KEPADA SAUDARANYA DAN TIDAK SEGAN-SEGAN BERBUAT JAHAT DAN MEMBUATNYA MENDERITA.

Comments

Popular posts from this blog