Masya Allah!!Beginil;ah Hidup tanpa akhlaq yang Mulia

Siapa yang berani membantah bahwa berakhlak mulia merupakan bagian dari fitrah manusia?

Sudah terbukti bahwa setiap manusia memiliki dorongan untuk berbuat baik dan merasa gembira jika mendapat perlakuan baik dari pihak orang baik, penjahat pun sangat berharap diperlakukan dengan baik oleh orang lain, walaupun itu adalah korbannya sendiri.  Allah SWT berfirman: 
(7)وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
(8)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
"Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kejahatan dan ketakwaannya." (Asy-Syams [91]: 7-8).

Firman Allah SWT tersebut tentu tak boleh disikapi secara fatalis, pasrah saja, bahwa manusia akan baik dengan sendirinya. Setiap orang tetap harus berupaya mengembangkan potensi kebaikannya agar menjadi perilaku mulia yang kokoh. Sebab, tumbuh atau tidaknya perilaku ini amat menentukan apakah manusia akan hidup bahagia atau sengsara, di dunia maupun di akhirat.

Abdurrahman Hasan Habanakah al-Maidani mencantumkan beberapa akhlak induk yang masing­masing menjadi simpul dari beberapa sikap mulia lain yang menjadi turunannya (al-Akhlaq al-Islamiyyah wa Ususuha, 1999). Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

MENCINTAI KEBENARAN
Hidup ini berjalan berdasarkan sunnatullah. Karena itu, mencintai dan memprioritaskan kebenaran dapat dipastikan menjadi akhlak mulia yang sangat dirindukan semua manusia sesuai fitrahnya.lbnu Taymiyyah menyatakan, "Hati itu tercipta untuk mencintai kebenaran dan menuntutnya;' (Abd al-Rahim al-Sulami, Syarh Risalah al-Ubudiyyah: VI/11).

Turunan dari akhlak ini meliputi sikap adil, jujur, dan amanah. Inilah sifat-sifat agung yang merupakan bagian dari karakter manusia terpilih, yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang shaleh. Inilah juga perilaku mulia yang sudah langka dan dapat dinikmati oleh manusia di zaman ini. Mencintai hal-hal yang benar, lalu mengorbankan diri untuk memprioritaskan hal-hal tersebut, telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam ban yak kesempatan. Saat kaum Quraisy menawari Rasulullah SAW  sejumlah besar harta, tahta yang tinggi, serta wanita tercantik di tanah Arab untuk dinikahi, dengan konsekuensi beliau harus menghentikan dakwahnya, beliau menolak. Rasulullah SAW memilih meneruskan dakwah untuk memberi petunjuk manusia agar bisa melihat kebenaran.

Begitu pula saat Rasulullah SAW dihadapkan pada kasus pencurian yang dilakukan seorang wanita. Diceritakan oleh ummul mukminin Aisyah RA, bahwa suatu ketika kaum Quraisy dibuat bimbang oleh peristiwa pencurian yang dilakukan seorangwanita dari kabilah Makhzumiyah.

Sesuai hukum Islam, wan ita itu harus dipotong tangannya. Usamah bin Zaid kemudian meminta kepada Rasulullah SAW untuk mengampuni wanita tersebut. Rasulullah SAW spontan berkata, "Apakah engkau hendak meminta dihapuskannya hukuman yang telah ditentukan oleh Allah SWT?"

Tak sekadar itu, Rasulullah ~ juga berdiri dan berkhutbah di hadapan kaum Muslim, "Binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan kerana mereka membiarkan saja (tidak dihukum) orang-orang yang termasuk golongan mulia melakukan pencurian. Namun apabila orang yang mencuri itu tergolong lemah, mereka menghukumnya. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, sungguh akan aku potong tangannya:' (Muttafaq 'alaih).

MENYAYANGI
Perilaku menyayangi akan menjamin orangtua memberi perhatian penuh kepada anaknya, atau anak yang berbakti kepada orangtuanya. Perilaku menyayangi juga akan mengikat persahabatan dan keharmonisan rumah tangga. Perilaku menyayangi akan membuat orang yang kaya merasa peduli kepada orang miskin, orang yang kuat akan menolong orang yang lemah, serta orang yang beruntung akan membantu orang yang terzalimi.

Perilaku menyayangi juga akan menciptakan keharmonisan antar tetangga, serta menjalin silaturahim dua orang yang berjauhan. Semua ini adalah manifestasi dari energi kasih sayang.

SABAR

Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri untuk memikul berbagai beban, rasa sakit, dan menghadapi berbagai kesulitan. Walaupun identik dengan kepasrahan, namun sebenarnya sabar bukanlah demikian. Umar ibn Khaththab membagi sabar menjadi tiga  macam. Pertama, sabar dalam melaksanakan ketaatan. Tidak ada ketaatan yang bisa terwujud dengan baik tanpa kesabaran. Misalnya shalat, tampaknya ringan, tapi sangat membutuhkan kesabaran. Bahkan acapkali -utamanya shalat Subuh- kita harus sabar dalam mengesampingkan rasa kantuk. Begitu juga sabar untuk berdiri, ruku, dan sujud dengan konsentrasi penuh.


Orang yang ingin sukses, baik mencari ilmu maupun merintis usaha, juga butuh segudang kesabaran. Proses menapaki jalan yang penuh rintangan tak akan berhasil jika tak punya cadangan kesabaran yang cukup. Bila kita gagal dilangkah pertama, kita harus sabar mengulangi kembali langkah tersebut, meskipun harus berkali-kali. Kedua, sabar dari kemaksiatan. Maksudnya, kemampuan mengekang diri dari terjerumus kepada kemaksiatan. Setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk bermaksiat, sebagaimana potensi untuk taat. Apalagi dengan sarana teknologi yang serba canggih saat ini, kesempatan bermaksiat semakin terbuka lebar. Bagaimana tidak, jarak antara maksiat dan taat di smartphone yang selalu ada dalam genggaman, serta di laptop, hanya satu klik. Jarak antara transaksi ribawi dan yang syar'i mungkin hanya satu kalimat.

Pembeda antara hubungan halal dan haram antara dua sejoli mungkin hanya dua kata. Karenanya, untuk memilih yang taat dan meninggalkan yang maksiat sangat diperlukan kesabaran. Ketiga, sabar atas musibah. Mungkin sabar jenis inilah yang paling lekat di benak masyarakat. Wujud dari sikap sabar kadangkala baru terlihat manakala seseorang menerima musibah.

Sabar saat musibah mencakup dua aspek. Aspek pertama terkait hati, yaitu keridhaan atas ketentuan Allah SWT  tanpa ada perasaan berburuk sangka (su'u zhan) kepada-Nya.
Aspek kedua terkait tingkah yang terkendali, baik ucapan maupun perbuatan. Saat musibah mendera,ia tidak berucap kecuali ucapan yang mengundang ridha Allah. Begitu pula terkait perbuatan, harus tetap terkendali, tidak menyobek-nyobek baju, menampar wajah sendiri, dan tindakan lain yang merusak.

DERMAWAN
Bukti keluhuran budi seorang manusia dilihat dari kemampuannya untuk melepaskan diri dari ego hewaninya, lalu terpanggil untuk berderma kepada pihak yang membutuhkan. Allah SWT telah mentakdirkan adanya perpautan rezeki antar manusia. Perpautan ini memberi peluang kepada mereka yang memiliki harta berlebih untuk berbagi kepada mereka yang kekurangan.


Kemuliaan sikap ini tak dapat diragukan lagi. Sebab, ia merupakan kepanjangan dari sifat mulia Allah SWT yang harus ditiru manusia, yakni Maha Pemurah.

Hampir semua ciri orang yang disanjung oleh Allah SWT dalam al-Qur'an memiliki sifat dermawan. Bahkan Allah telah menjamin bahwa orang-orang yang dermawan akan menjadi orang-orang yang beruntung. Allah SWT berfirman: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr [59]: 9).

Tentu, masih banyak contoh akhlak mulia yang semestinya menjadi ciri khas manusia beriman dan harus selalu dikuatkan. Semoga dengan berhias akhlak mulia yang sesuai dengan bimbingan Yang Maha Mulia, kita benar-benar menjadi hamba yang meraih kemuliaan di sisi Allah SWT· Wallahu a'lam bish-shawab.

semoga bermanfaat buat qta semua dan menumbuhkan sikap akhlakul karimah dalam diri kita..amiiiin mohon komentar jika ada penulisan yang salah atau mau menambahkan dengan senang hati saya terima 

Comments

Popular posts from this blog