TELADAN ISTIQAMAH , DAN LURUS LISAN DAN HATI
Tentu Nabi
SAW adalah contoh terbaik dalam hal ini.Di awal misinya, keistiqamahan Nabi SAW
dalam dakwah diuji. Sebagian besar tokoh Quraisy, yang tidak lain adalah
kerabat beliau sendiri, selalu menentang dan mengancam beliau. Gangguan secara
psikologis dan fisik rutin menimpa.
Bahkan di
antara pengikut beliau ada yang disiksa hingga dibunuh. Ketika semua kezaliman
itu tidak mempan lagi, mereka berupaya menggunakan cara lain berupa godaan
ekstrim, misalnya untuk menjadi raja diraja, mendapat wanita tercantik dan
memperoleh kekayaan tak tertandingi dalam sekejap. Namun Nabi SAW tak bergeming
dan memilih sikap termulia yang menjadi perintah dari Yang Maha Mulia yaitu
istiqamah di jalan dakwah dan tak sedikit pun tergoda.
Pernyataan
agung beliau dalam peristwa itu menjadi inspirasi yang menyejarah:
"Wahai
paman, andaikan engkau letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan
kiriku agar aku menghentikan dakwahku ini, maka aku tidak akan mundur sedikit
pun hingga aku berhasil atau aku binasa" (lbnu Hisyam, Sirah Ibn Hisyam: 266)
Tekad Nabi
SAW benar-benar terbukti dan Allah SWT pun memujinya:
Sungguh
engkau berada di atas petunjuk yang lurus. (Al-Hajj [22]: 67)
Tidak heran
jika para sahabat terinspirasi dengan konsistensi Nabi SAW itu. Yasir bin
Amir dan Sumayyah binti Khayyat yang disiksa hingga meninggal tak sedikit
pun berkurang kepercayaannya kepada Allah SWT dan Nabi SAW· Ammar yang
menyaksikan kedua orang tuanya itu disiksa, juga tidak surut keimanannya.
Begitu juga Bilal, yang dipanggang di atas batu panas oleh tuannya, justru
semakin membatu tekadnya untuk beragama lslam.
Sahabat yang
lain, Ka'ab bin Malik yang menjalani hukuman berat dari Nabi SAW gara-gara
absen dari perang tanpa alasan yang dibenarkan, juga dengan tegas menolak
tawaran suaka menggiurkan dari raja Ghassan. la memilih istiqamah menuntaskan
hukuman berat itu, meski tak seorang pun (termasuk istrinya) yang boleh
menyapanya selama hampir dua bulan, karena dilarang Nabi SAW·
Keistiqamahan
Ka'ab pun berbuah manis. Ampunan dari Allah SWT turun langsung kepadanya, dan
menjadi mercusuar taubat dalam sejarah, yakni dengan turunnya wahyu Surah
at-Taubah, ayat 118.
Sikap
istiqamah ini terwarisi dengan baik oleh generasi-generasi berikutnya,
diantaranya adalah alBukhari. Muslim mana yang tak kenal beliau. Seorang ahli
Hadis dan kritikus rawi (periwayat Hadis) yang paling masyhur. Beliau menjadi
salah satu contoh keistiqamahan dalam bertutur.
Al-Dzahabi
menceritakan bahwa al-Bukhari berkata:
"Alm
berharap dapat menghadap Allah SWT dalam kondisi aku tidak dihisab/diadili
pernah menggunjing seorang pun." (al-Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala:
XII,440)
Al-Dzahabi
menyaksikan sikap kehati-hatian beliau dalam mengungkap cacat rawi. la berkata:
"Terbukti betul apa yang beliau katakan. Siapa pun yang mencermati
komentarnya dalam men-jarh (menilai cacat) dan men ta'dil (menilai kompeten)
rawi pasti menyaksikan kehati-hatian dan obyektifitas dalam menilai rawi yang
dinilainya dha'if(lemah)."
LURUS LISAN
DAN HATI
Keistiqamahan
pada lisan seperti itu memang patut mendapat perhatian serius karena memegang
peranan signifikan dalam menjaga eksistensi keistiqamahan keimanan. Nabi SAW
menegaskan: Keimanan seorang hamba tidaklah mencapai derajat istiqamah hingga
hatinya istiqamah. Dan tidaklah hatinya istiqamah hingga lisannya istiqamah.
Tidaklah seseorang masuk surga sementara tetangganya tidak aman dari prilaku
buruknya. (Riwayat Ahmacl clan al-Baihaqi)
Sungguh
indah, rantai istiqamah ternyata dimulai dari hati, mulut dan perbuatan. Dan
lebih indah lagi bila sikap ini terwujucl dalam kehidupan saat ini, dimana
pemimpin selalu menepati janji, penegak hukum bersikap adil tanpa tendensi,
pejabat yang bebas korupsi, rakyat anti suap, pekerja profesional dan
lain-lainnya.
Maraknya
pemimpin yang selalu ingkar janji adalah fenomena langkanya istiqamah.
Terpilihnya pemimpin kafir dalam komunitas Muslim, atau pemimpin Muslim tapi
bermasalah, merupakan indikator cacatnya keistiqamahan rakyat. Mereka memilih
karena dibeli.
Sikap tokoh
Muslim yang cenderung mencari muka di depan orang kafir, atau kelompok-kelompok
sesat, juga menjadi bukti bahwa krisis istiqamah semakin parah.Bagaimana tidak
memprihatinkan, dalam rangka menjaga popularitas, seorang tokoh Muslim raj in
mengkriminalkan umat saat mereka hendak menikmati ketaatan kepada Allah
SWT dan Rasul-Nya. Dengan entengnya ia mewajibkan orang yang berpuasa Ramadhan
menghormati yang tidak puasa.
Subhanallah!!!!
Semoga Allah
SWT melimpahkan anugerah kemuliaan istiqamah dan melindungi kita semua dari
kehinaan virus "tidak istiqamah".
Wallahu
a'lam bis-shawab.
Berbagai
sumber

Comments
Post a Comment