Waspadalah !!! Dosa Kecil jangan pernah Dianggap Remeh
"Hati-hatilah dengan dosa-dosa kecil,
(karena dosa-dosa kecil itu) bagaikan suatu kaum yang turun di suatu /embah dan
masing-masing orang membawa satu ranting kayu bakar yang pada akhirnya
bisa menyalakan api hingga mereka bisa memasak roti mereka. Demikianlah
dosa-dosa kecil, apabila berkumpul dalam diri seseorang niscaya akan
membinasakannya."
(Riwayat Ahmad, Thabrani dan
dishahihkan
Syaikh ai-Aibani dalam ash-Shahihah, no.
3102).
Manusia begitu mudah terjerumus dalam dosa. Allah SWT memperlihatkannya
sejak Adam masih berada di surga. Allah SWT telah mewanti-wanti Adam dan Hawa,
agar tidak mendekati pohon dan memakan buahnya. Namun akhirnya suami-istri itu
melanggar larangan tersebut. Allah Maha Adil. Ketika manusia dicipta sebagai
makhluk yang mudah berbuat dosa, Allah SWT membuka pintu tobat.
Adam pun segera bertobat. Allah SWT menerimanya. Bahkan Dia sangat
bergembira dengan tobat yang dilakukan hamba-Nya. Permasalahannya, motivasi dan
dorongan bertobat terkadang begitu lemah. Salah satu penyebabnya karena
terkadang kita terjebak dalam meremehkan dosa. Jika dosa dianggap remeh,
pelan-pelan akan menggiring kita merasa hanya sedikit dosa. Bahkan tak jarang
kita berbuat dosa, tapi tak lagi terasa bahwa itu dosa.
MAKNA HADITS
Menganggap remeh dosa adalah salah satu sumber musibah dalam islam.
Rasulullah SAW sangat perhatian dalam hal ini. Terdapat beberapa Hadits yang mengingatkan
kita akan bahaya meremehkan dosa. Dalam Shahih Bukhari terdapat bab khusus,
mayuttaqa min muhaqqaratidzunub (apa-apa yang dikhawatirkan dari dosa yang
dianggap sepele).
Yang dimaksud dengan
muhaqqaratidzunub adalah dosa-dosa yang tidak terlalu dipedulikan. Dosa yang
jika seorang terjerumus di dalamnya tidak terlalu menganggapnya sebagai dosa.
Assindi dalam syarah Sunnan lbnu Majah berkata, "Muhaqqaratidzunub adalah
apa-apa yang tidak dipedulikan:' Dan, dosa yang diremehkan biasanya
adalah dosa-dosa kecil. Dosa kecil jika diremehkan sangatlah berbahaya. Gambaran
yang disebutkan oleh Rasulullah SAW di atas sangat jelas. Satu ranting memang
tidak bisa digunakan untuk memasak makanan. Namun jika yang satu ranting
berkumpul, bisa mematangkan makanan.
Seperti itu pula dosa-dosa kecil. Jika berdiri sendiri nampak kecil. Tapi
ketika bertambah atau bergabung dengan dosa kecil lainnya, maka akan menjadi
besar dan membinasakan. Ibnu Batthal berkata sebagaimana dinukil lbnu Hajar
dalam Fathul Bari, "Sesuatu dosa yang dianggap remeh bisa menjadi dosa
besar, ditambah lagi jika terus menerus melakukan dosa:'
FENOMENA YANG MESTI DIWASPADAI
Tidaklah Rasulullah SAW mengingatkan kita kecuali karena beliau mengetahui
akan munculnya di kemudian hari dan pergeseran cara pandang terhadap dosa.
Fenomena ini bahkan sudah mulai nampak sejak lama.Di zaman tabi'in Anas bin
Malik sudah merasakan hal itu. Di hadapan para tabi'in, Anas bin Malik mengingatkan,"Sesungguhnya
kalian benar-benar akan melakukan suatu amalan, amalan itu engkau anggap lebih
tipis dari sehelai rambut padahal di zaman Rasulullah kami menganggapnya
sebagai dosa yang membinasakan:'(Shahih Bukhari, bab: ma yuttaqa min
muhaqqaratidzunub ). Jika fenomena itu sudah terasa di zaman tabi'in, lalu
bagaimana di zaman kita? Karenanya, kita hendaknya selalu berhati-hati dari
dosa, sekecil apapun dosa tersebut.
Dikisahkan,Imam Ahmad berjalan di jalanan yang berlumpur dan beliau
berhati-hati lalu kakinya terjerembab dalam lumpur. Seperti itulah seorang
mukmin ketika terjerumus dalam dosa. la merasakan telah berbuat dosa. Sehingga
terpanggil untuk segera menghapus dosanya. Jika seorang melakukan dosa tapi
tidak lagi merasa berdosa, pasti orang tersebut telah terjangkiti penyakit
meremehkan dosa.
PENGHAMBAT BERTOBAT
Tobat merupakan sumber kemuliaan. Jika maksiat menghinakan seseorang, tobat
adalah jalan untuk keluar dari kehinaan menuju kemuliaan. Manusia-manusia
terbaik sepanjang sejarah memiliki ciri khas tersebut, yaitu gigih dalam
bertobat.Lihatlah Nabi Ibrahim alaihissalam. Meski beliau sosok yang sangat
mulia, namun tak pernah lepas dari bertobat. Allah berfirman,
"Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi
penghiba dan suka kembali kepada Allah:' (Hud [11): 75).
Rasulullah SAW juga selalu memotivasi umatnya agar banyak bertobat. Bahkan
beliau yang telah terampuni dosanya yang lampau dan yang akan datang tetap
bertobat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sekalian
manusia,bertobatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya
aku bertobat dalam sehari sebanyak seratus kali." (Riwayat Muslim).
Di kalangan sahabat dan tabi'in, mereka juga sosok yang giat dalam
bertobat. Meski banyak amalan mulia,kontribisi mereka sangat besar kepada
Islam, semua itu tak membuatnya merasa aman dari dosa. Mereka ada yang
mengatakan,"Sekiranya dosa itu ada bau busuknya,tak seorang pun yang
sanggup duduk di dekatku:' Tentu semangat untuk terus bertobat tidak muncul
begitu saja. Semua itu terwujud karena kesadaran bahwa manusia mudah berbuat
dosa. Mereka jauh dari sikap meremehkan dosa.
Dosa sekecil apapun akan mengganjal di hatinya. Tak jarang di antara
mereka menghukum dirinya karena terjerumus dalam kekeliruan yang sebenarnya
tidak disengaja. Dalam Musnad Imam Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Syuaib
al-Arnauth mengisahkan bahwa Umar bin Khaththab tetap berpuasa sunnah,
bersedekah, shalat nafilah dan memerdekakan budak disebabkan sikapnya terhadap
klausul perjanjian Hudaibiyah. Umar berkata,"Aku takut dengan apa yang aku
katakan ketika itu."
MELURUSKAN CARA PANDANG
Kita sering mendengar istilah dosa kecil dan dosa besar. Istilah ini muncul
ketika membandingkan satu dosa atas dosa yang lain. Adapun dampak dari setiap
dosa tidak ada yang kecil. Inilah yang dimaksudkan oleh lbnu Mas' ud.
Dalam atsar yang diriwayatkan Imam Muslim,"Sesungguhnya seorang mukmin
melihat dosanya seperti ia duduk di tepi gunung. la takut gunung akan menimpa
dirinya sedangkan seorang yang buruk melihat dosanya hanya seperti lalat yang
hinggap di hidungnya:
Seperti itulah semestinya seorang mukmin dalam menyikapi dosa yang
dilakukannya.la tidak membandingkan dosa yang dilakukannya dengan dosa yang
lain yang lebih besar. Ketika seorang telanjur berbuat dosa yang dilihat bukan
besar kecilnya dosa. Yang ia lihat adalah keagungan Zat, yang ia berbuat dosa
kepadanya.
Bilal bin Sa'ad rahimahullah berkata, "Jangan lihat pada kecilnya
dosa, tapi lihatlah kepada siapa engkau berbuat dosa:' (Mawaidz as-Shabah, hal.
107). Wallahu a'lam.
sudah semestinya kita sebagai
mukmin harus selalu peka terhadap setiap dosa yang telah kita perbuat agar
supaya jannah menunggu kita amiiin ya rabbal alamiiin,, mohon di share supaya
fahala kita bertambah, dan kita di ampuni amiiin.


Comments
Post a Comment