Wajib Baca !! Inilah Pesan Singkat Tanda Kiamat
Tanda-tanda kiamat terus menampakkan wujudnya.
Langkanya ilmu, menyebar luasnya kebodohan, mentradisinya minuman keras,
dan semaraknya perzinaan termasuk di antara tanda kiamat yang dengan mudah kita
bisa saksikan. Meski banyak mengabarkan tanda kiamat, Islam melarang keras
meramal waktu kiamat.
Penjelasan Hadits
Imam Bukhari adalah salah seorang ulama yang berhasil menyingkap pesan di
balik pangabaran tanda kiamat. Hal itu tergambar pada judul yang dipilihnya
untuk Hadits ini. Imam Bukhari meletakkan Hadits ini dalam
kitabul ilmi, bab rafil ilmi (bab diangkatnya ilmu). Dengan analisa
sederhana terhadap judul ini,kita bisa mengetahui bahwa tujuan Rasulullah menyebutkan
tanda kiamat bukan sekadar mengabarkan tanda kiamatnya.
Ibnu Hajar berkata, "Maksud dari bab ini adalah dorongan agar
mempelajari ilmu." (Fathul Bari, Kitabul Ilmi, Bab Raf'il ilmi wa
dzuhuriljahli). Itulah pesan sesungguhnya dari Hadits di atas. Yaitu motivasi
kepada umat agar lebih bersemangat menuntut ilmu.Terutama ketika ilmu sudah
mulai diangkat, kebodohan dan perzinaan menyebar luas. Pesan ini memang
singkat, tapi efek dan manfaatnya sangat luar biasa.
Adapun makna diangkatnya ilmu adalah diwafatkannya para ulama. Pemaknaan
ini disebutkan oleh Rasulullah dalam Hadits lain, "Dari Abdullah bin amru
bin Al 'Ash berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya Allah
tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi
Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama." (Muttafaqunnalaih).
Ilmu yang dimaksud dalam Hadits di atas tentunya adalah ilmu syariat. Ilmu
yang berkaitan dengan akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Sumber utama dari
ilmu syariat itu adalah al-Qur'an, Hadits atau perkataan ulama yang bersandar
pada keduanya. Ibnu Taimiyah berkata dalam muqaddimah tafsirnya, "Ilmu itu
bisa berupa nukilan yang benar dari yang ma'shum (Qur' an dan Hadits shahih)
atau perkataan yang berlandaskan dalil. Adapun selainnya maka itu adalah
sesuatu yang palsu dan tertolak atau mauquf (tidak sampai kepada Rasulullah)
sehingga tidak diketahui apakah bathil atau baik." (Muqaddimatuttafsir,
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah).
Pengaruh llmu Dalam Kehidupan
Dalam menjalani kehidupan kita selalu butuh bimbingan. Pembimbing terbaik
kita tentulah ilmu yang
berasal darisumber yang ma'shum (terbebas dari kesalahan) yaitu wahyu, baik
itu al-Qur'an ataupun Hadits Rasulullah yang shahih. Inilah ilmu yang
sesungguhnya. Ilmu yang akan selalu setia menuntun kita menjalani kehidupan di
dunia sesuai dengan kehendak ilahi.
Jenis ilmu seperti inilah yang sangat dibutuhkan umat manusia terutama di
saat tanda-tanda kiamat itu mulai bermunculan. Dengan berbekal ilmu
syariat,setiap Muslim akan mendapakan pencerahan dan kejelasan dalam menempuh
jalan. la akan mengetahui bagaimana berakidah yang lurus, beribadah dan
berakhlak sesuai yang dituntunkan syariat. Jika seorang sudah bisa berakidah
dengan lurus, beribadah dan bermuamalah berlandaskan syariat Islam, maka hal
itu menjadi modal yang sangat berharga untuk mencicipi kebahagiaan di akhirat.
Sebaliknya, tanpa ilmu seorang Muslim akan mudah takluk oleh fitnah
syubhat dan syahwat yang memang senantiasa mengiringi kehidupan ini.
Akibat Diangkatnya llmu
Ketika ilmu diangkat, maka yang paling terancam adalah agama kita.
Rasulullah pernah mengingatkan hal itu dalam sebuah Hadits,"Hingga bila
sudah tidak tersisa ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan
orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka
sesat dan menyesatkan." (Muttafaqunalaih).
Kesesatan sebagai buah pahit dari kebodohan adalah hal yang berpotensi
menggorogoti modal kita ke surga. Bahkan jika kesesatan itu sudah menyentuh
persoalan akidah, hal itu bisa menghanguskan tiket kesurga. Kita tidak akan
masuk surga hingga seekor unta bisa memasuki lubang jarum. Inilah kecelakaan
dan kesengsaraan yang sesungguhnya.
Kondisi ini memang sangat mengerikan tapi celakanya justru inilah yang
mulai menyemai di tengah umat. Betapa banyak orang yang berbicara tentang halal
dan haram tanpa dilandasi dasar keilmuan yang kuat. Akibatnya, kesesatan pun
menjadi warna baru yang mulai dominan di tengah umat. Perkara ma'ruf
dianggap munkar, yang munkar dianggap ma'ruf, yang bid'ah dianggap sunnah
demikian pula sebaliknya.
Islam pelan-pelan masuk dalam ruang keterasingannya. Keterasingan ini
tidak saja beredar pada orang kafir, tapi juga pada orang Islam sendiri.
Sebagian orang Islam keheranan melihat saudaranya yang komitmen terhadap Islam.
Menyaksikan orang yang berjilbab besar, apalagi bercadar, orang terheran-heran.
Namun, melihat perempuan mengumbar aurat, biasa-biasa saja .. Ketika orang
berpoligami mereka heboh, tapi perzinaan dan selingkuh sama sekali tidak pernah
mengusiknya. Orang sibuk mempersoalkan pernikahan yang tidak tercatat di KUA,
tapi tenang tenang saja dengan perselingkuhan yang lalu lalang di depan
matanya.
Yang lebih konyol lagi adalah dicalonkannya sebagian orang bodoh dan tidak
bermoral sebagai pemimpin. Bagi orang yang masih memiliki iman, pasti akan teriris
hatinya melihat banyaknya artis yang mencalonkan diri sebagai pemimpin.
Umar bin Khaththab pernah mengatakan,"Menjadi faqihlah sebelum kalian
menjadi pemimpin." Dalam kesempatan lain, ketika ia melihat orang-orang
berlomba-lomba mempertinggi bangunan ia berkata, 'Wahai masyarakat Arab,
ingatlah, sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak ada
jamaah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada (gunanya)
kepemimpinan kecuali dengan ketaatan. Barangsiapa yang dihormati kaumnya karena
ilmu, hal demikian membawa kebaikan untuk kehidupan dirinya dan masyarakatnya,
dan barangsiapa yang dihormati oleh kaumnya bukan karena ilmu, maka ia hancur
(begitu juga dengan) kaumnya." (Sunan ad-Darimi No. 255 ).
Ilmu adalah dasar dan asas kepemimpinan. Ketika kepemimpinan tidak dibangun
di atas ilmu, maka kehancuran akan menjadi taruhannya. Akan banyak kemungkaran
yang bermunculan. Perzinaan, dan minuman keras akan mewarnai
kehidupan umat ini. Mari kita selamatkan umat ini dengan ilmu dan amal dari
tangan orang-orang yang tidak berilmu dan bermoral.(berbagai sumber)

Comments
Post a Comment