Jangan Ada Dusta Di Antara Kita

Islam dengan tegas memerintahkan umatnya menjauhi perkataan dusta, karena akibat yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat.
Beberapa bulan ke belakang media massa memberitakan soal terbongkarnya kasus jual-beli gelar akademik. Dan, yang miris di antara pelakunya adalah para pejabat.Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa catatan akademis bisa membantu peningkatan karier seseorang. Tetapi,gelar akademis ternyata bisa menjadi penyebab seorang pejabat atau peting­gi terdepak dari jabatannya, bahkan berurusan dengan yang berwajib.

Kasus bodong gelar akademik bukan saja terjadi di negeri ini saja,tapi di luar negeri pun sama terjadi. Misalnya, para pemegang jabatan tinggi di beberapa perusahaan, seperti Yahoo!,Microsoft, maupun pejabat Keamanan  Dalam Negeri AS mengundurkan diri dari jabatan karena catatan akademis mereka palsu. Mereka telah melakukan kebohongan. (Okezone, 17/9/2014).

Yang jelas, satu haI yang paling berbahaya jika suatu daerah dipimpin oleh pejabat yang kerap berbohong terhadap masyarakatnya, maka selain ia tidak mendapat kehormatan juga akan membunuh citra kepemimpinannya sendiri. Berbohong keli hatannya sepele. Tapi jika yang berbohong adalah pejabat negara tentu mudharatnya akan lebih besar dibanding orang biasa. 

Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat diperhatikan oleh Islam yaitu larangan berdusta. Allah Swt berfirman:
" ... Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta:' (Gafir [ 40]: 28).

Dusta dilarang dalam Islam karena  bisa menumbuhkan sifat-sifat buruk lainnya.Di antara yang sering terjadi yaitu sifat munafik. Rasulullah Saw  bersabda, "Ciri-ciri orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia tidak menepati, dan apabila diberi amanah ia berkhianat." (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dusta muncul karena orang yang  melakukan biasanya tidak memikirkan akibatnya. Terkadang dengan lisannya seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipertimbangkan dan di pikirkan sebelumnya. Akibatnya, menimbulkan fitnah dan kemudharatan yang banyak bagi dirinya maupun orang lain. 

Jika kemaksiatan yang ditimbulkan dari kemaluan adalah zina, maka kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan adalah dusta. Karenanya  Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa mampu menjaga apa yang terdapat di antara dua janggutnya dan apa yang ada di antara dua kakin ya, maka aku jamin akan masuk surga." (Muttafaqun'alaih). 

Hadits ini menjelaskan, diantara keselamatan seorang hamba tergantung pada penjagaan seseorang terhadap lisannya. Rasulullah Saw pernah menasihati 'Uqbah bin Amir ketika dia bertanya tentang keselamatan, lalu beliau bersabda, "Peliharalah lidahmu, betahlah tinggal di rumahmu dan tangisilah dosa­ dosamu:' (Riwayat Tirmidzi).

Islam memandang urusan· dusta sebagai haI yang berbahaya, karena menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka. Rasulullah Saw bersabda,  "Sesungguhnya dusta menuntun kepada kekejian, dan kekekejian menuntun ke dalam neraka. Tidak henti-hentinya seseorang berdusta dan membiasakan diri dalam dusta,  sehingga dicatat di sisi Allah sebagai  pendusta." (Muttafaqun 'alaih).

Bahkan perbuatan tersebut akan  mengantarkan pada kejahatan, yaitu berpalingnya dari sifat istiqamah. Ada juga yang mengatakan dusta merupakan kemaksiatan yang paling cepat menyebar seperti virus yang sedang menular. Rasululallah Saw memerintahkan agar seseorang tidak banyak berbicara untuk menghindari dusta. Beliau bersabda, "Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia selalu membicarakan segala sesuatu yang ia dengar." (Riwayat Muslim). 

Abdullah bin 'Amr berkata, "Rasulullah pernah datang ke rumah kami, waktu itu aku masih kecil, aku keluar untuk bermain. lbuku kemudian memanggil, 'Ya Abdullah kemari,  nanti akan ibu beri sesuatu'." Maka  Rasulullah Saw bertanya: "Apa yang akan kamu berikan?" Dia menjawab,  "Saya akan memberi kurma". Rasulullah Saw kemudian bersabda, "Seandainya engkau tak melakukan (apa yang engkau katakan), berarti telah dicatat atasmu satu kedustaan." (Riwayat Abu Daud).

DAMPAK BERDUSTA 

Dusta mempunyai pengaruh  buruk yang menyebabkan pelakunya jatuh pada dosa besar. Di antara akibat buruk tersebut, yaitu terjadinya keraguan dalam masyarakat. Orang  yang suka berdusta biasanya menjadi sumber keresahan dan keraguan, yang menyebabkan orang jujur pun terkena dampaknya. Bila masyarakat sudah terbiasa berdusta, maka perkataan orang yang jujur pun juga ikut diragukan kebenarannya. 

Demikian juga dusta bisa berdampak pada hilangnya kepercayaan. Jika perbuatan tersebut sudah menyebar dalam  kehidupan bermasyarakat, hal itu akan mengh ilangkan kepercayaan di kalangan kaum Muslimin. Antara satu dengan lainnya terjadi saling curiga dan tidak mudah untuk saling percaya.  Pengaruh buruk dusta lainnya yaitu memutarbalikkan kebenaran dan membawa berita yang berlainan dengan fakta. Biasanya dilakukan dengan tanpa memberikan penjelasan  berdasar pada yang hak. Hal ini  dilakukan karena para pendusta suka mengubah kebatilan menjadi kebenaran dan kebenaran menjadi kebatilan dalam pandangan manusia. 

Yang lebih dikhawatirkan perbuatan tersebut juga merusak anggota badan yang berdampak pada rusaknya amal. Karenanya, jika Allah  Ta'ala tidak memberikan petunjuk, para pendusta akan terjerumus dalam  kehancuran. Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, sedangkan dusta itu menuntun kepada kedurhakaan." (Muttafaqun 'alaih).

Selain berdampak langsung di  dunia, para pendusta juga diancam di akhirat dengan siksaan yang berat yaitu neraka. Rasulullah Saw bersabda,  "Sesungguhnya dusta itu menuju kepada kekejian dan kekejian menuju kepada neraka, seseorang terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (Muttafaqun 'alaih).
 
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh lmam Malik terdapat sebuah dialog antara seorang sahabat dengan Rasulullah Saw· Telah menceritakan kepadaku Malik dari Shafwan bin Sulaim berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah Saw, "Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut?" Beliau menjawab: "Ya." Kemudian ditanya lagi; "Apakah seorang mukmin bisa menjadi bakhil?" Beliau menjawab: "Ya." Lalu ditanyakan lagi; "Apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong?" Beliau menjawab: "Tidak:' (Riwayat lmam Malik). 

Hadits ini menerangkan bahwa  Rasulullah SAW memaklumi jika seorang mukmin memiliki sifat sebagai penakut dan bakhil. Namun beliau sama sekali  tidak membenarkan seorang mukmin menjadi seorang pembohong alias pendusta. 

Karena itu, sudah sepatutnya orang-orang beriman mewaspadai sifat dan kebiasaan berdusta. Karena jika seseorang sudah mulai berdusta,  ia akan distempel Allah Swt menjadi seorang pendusta. Dan, pada gilirannya hal ini bisa menceburkan dirinya ke dalam golongan kaum munafiqun.  Semoga kita dijauhkan dari sikap tercela tersebut. Aamiin.(banyak sumber)

Comments

Popular posts from this blog