Berharaplah, dan Jangan Berangan-angan

Salah satu ciri orang beriman adalah meyakini dan senantiasa mengharapkan rahmat Allah Swt (raja' ila rahmatillah). Pengharapan (raja') merupakan masih adanya iman.Firman Allah Swt :


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah,dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat dari Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."(Al-Baqarah [2]: 218)

Sebaliknya, orang kafir berputus asa dari rahmat Allah Swt. Di antara keduanya terdapat orang-orang yang berangan-angan (tamanni). Mereka berharap rahmat Allah Swt tapi tidak berbuat apa-apa.

HARAPAN ADALAH NYAWA 
Dalam setiap bencana tanah longsor, sering kali kita mendengar ada korban yang masih hidup setelah tertimbun berhari-hari. Mengapa mereka bisa bertahan? Mereka menjawab karena mereka masih menyimpan harapan untuk hidup dan selamat. 

Harapan merupakan energi ruhani Iuar biasa yang di­miliki orang beriman. Harapan (raja ') itulah yang me­nyebabkan kaum Muslim selalu berdoa kepada Allah Swt.Doa merupakan bukti nyata sekaligus implementasi keimanan. Bahkan, sekalipun belum kunjung dikabulkan, seorang mukmin tetap senang berdoa. Ini karena ia meyakini bahwa bisa jadi permohonannya diganti dengan sesuatu yang lebih baik; atau permintaannya ditunda sampai waktu yang ditentukan, terutama di akhirat. 

Doa, selain menjadi sarana ibadah yang sangat efektif untuk mendekatkan diri(taqarrub) kepada Allah Swt, juga merupakan cara yang jitu untuk menumbuhkan harapan, motivasi, sekaligus kerja keras. Orang yang punya harapan diyakini lebih bersungguh-sungguh dan lebih berenergi dalam menjalani hidup.

BERPRASANGKA BAlK 
Yang paling penting dalam berharap kepada Allah Swt adalah berprasangka baik kepada-Nya. Pikiran positif ini harus disuburkan, karena Allah Swt akan mengikuti prasangka hamba-Nya. Rasulullah Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bersabda, "Allah Azza wa Jalla berfirman, "Aku berada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku" (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Jabir RA juga pernah mendengar Rasulullah Saw, tiga hari sebelum wafatnya, bersabda,"Janganlah salah seorang di antara kalian mati kecuali dia berbaik sangka terhadap rahmat-Nya;' (Riwayat Muslim). Sebagai orang yang beriman, wajib hukumnya berbaik sangka kepada Allah Swt, bahwa rahmat-Nya sangat luas,  meliputi segala sesuatu. Sekalipun Allah Swt memiliki sifat ghadhab (murka) dan syadidul-iqab (penghukum) tapi rahmat-Nya mendahului kemarahan-Nya. 

Rasulullah Saw bersabda, "Ketika menciptakan makhluk, Allah Swt membuat ketentuan di dalam kitab-Nya yang berada di sisi-Nya, sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku;' (Riwayat Bukhari dan Muslim). Karena itu, mestinya tiada seorang pun yang berputus asa dari rahmat Allah Swt. Sebab, rahmat-Nya sangat luas dan dibagikan kepada siapa saja yang berharap. Bahkan, orang kafir pun mendapat bagian rahmat, walaupun hanya di dunia. Sedang orang Muslim mendapatkan rahmat di dunia sekaligus di akhirat. 

JANGAN PUTUS ASA 
Umar bin Khaththab menceritakan, bahwa suatu hari Rasulullah Saw melihat seorang perempuan tawanan yang sedang membuai dan menyusui bayinya. Maka Rasulullah Saw bertanya kepada para Sahabat, "Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api''? Umar menjawab, sebagaimana Hadits yang diriwayat  Bukhari dan Muslim,"Demi Allah, tidak mungkin:' Lalu Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh kasih sayang Allah Swt (rahmat-Nya) terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya:' Keyakinan dan prasangka baik kepada Allah Swt itu harus ada pada diri setiap Muslim. Dapat dibayangkan betapa frustasi orang yang tidak memiliki zhan (prasangka) baik kepada Allah Swt. Jiwanya terbelah, hatinya sakit, dan jika ada sedikit saja cobaan mereka takut, cemas, dan putus asa.

Itulah sebabnya, kita harus punya asa, apapun keadaannya. Kita tidak boleh berputus asa, frustrasi, apalagi jika sampai bunuh diri  Allah Swt berfirman: yang artinya : "Katakanlah,Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar [39]: 53)

Dalam ayat di atas, walaupun Allah Swt telah memanggil mereka dengan sebutan"orang-orang yang melampaui batas" (asrafu 'ala anfusihim), tapi Allah Swt tetap mengajak mereka untuk berharap dan tidak berputus asa. Apapun kesalahan manusia, sebesar apapun timbangannya, Allah Swt tetap menunggu di depan pintu ampunan-Nya. Jika mereka meminta ampun maka Allah Swt mengampuninya.Allah Swt berfirman:

 ۚإِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ 
"Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunannya."(An-Najm [53]: 32) 

HARAPAN SEJATI 
Meski demikian, jangan salah sangka. Tak semua orang yang mempunyai harapan akan diampuni dosa-dosanya. Mereka yang diampuni hanyalah mereka yang bersungguh sungguh minta ampunan. Mereka adalah orang-orang yang melakukan taubat nasuha. Sambil menyesali kesalahannya, mereka menggantinya dengan berbagai kebaikan. Sambil mengakui kesalahannya, mereka berjanji untuk tidak mengulanginya. 

Amal saleh merupakan satu pertanda bahwa seseorang telah mengharap (raja ') rahmat Allah Swt. Tak mungkin orang yang berharap tapi tidak melakukan apa-apa. Dalam hal ini Allah Swt menegaskan:"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (AI-Kahfi [18]: ll0) 

Banyak orang yang terkecoh antara harapan dan angan­-angan. Orang yang berharap selalu berusaha sungguh­-sungguh dan tawakal kepada Allah Swt. Kata kuncinya adalah "keyakinan tangguh dan usaha sungguh-sunggguh': Adapun orang-orang yang hanya berkhayal (panjang angan-angan) pasti akan bermalas-malasan, bahkan tidak melakukan apapun terhadap harapannya. 

Untuk membedakan antara orang-orang yang berharap dan berkhayal dapat diumpamakan dua petani yang  memiliki sepetak tanah.Yang satu menggarap tanahnya dengan menamani, memupuk, dan menyiram tanamannya. itulah orang yang berharap. Sedang yang kedua, tidak melakukan apapun tapi mereka mengharapkan hasilnya. Mereka tidak menanam tapi ingin memetik buahnya. Betapa banyak kita jumpai para pengkhayal. Mereka mengharapkan surga tapi beramal sebagaimana amalan ahli neraka. Mereka ingin mendapat ampunan dan rahmat Allah Swt tapi kenyataan kesehariannya malah menumpuk-numpuk dosa. lngin disayang dan dikasihi Allah Swt, tapi justru melakukan perbuatan yang justru mengundang murka-Nya. 

Inilah pekerjaan utama setan dalam misinya menyesatkan manusia. Selain mengiming-imingi manusia dengan berbagai kenikmatan duniawi, setan juga mengajak manusia agar panjang angan-angan (thulul amal) dengan membisikan kata-kata manis dan janji-janji palsu yang dipoles dengan hawa nafsu. Akhirnya, mereka hanya disibukkan oleh bayang-bayang kenikmatan dunia. 

Kita wajib berharap, tapi jangan tertipu hingga menjadi orang yang thulul amal. Makanya Rasulullah Saw menegaskan, "Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, dan orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsu dan berangan-angan tentang  Allah Swt' (Riwayat Ahmad, lbnu Majah, dan Tirmidzi). 
Wallahu A'iam bish-Shawab .•(berbagai sumber) 

Comments

Popular posts from this blog