Kisah Nyata !!!Suamiku Mencintai Wanita Lain
Kisah Nyata seorang Sahabat “Pesan” dahsyat buat para
suami (dan calon suami) untuk menjaga istrinya…
Dan motivasi hebat buat para istri (dan calon istri)
untuk tetap mencintai suaminya…
(nama saya samarkan)
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang
pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Andi tampak baik dan
lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia
cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke
rumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,
makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang
kerja, itu pun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah
romantis, aku pikir,memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2
seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, kami
jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluar pun hampir tidak pernah.
Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu
kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan
sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan
anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku
menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami
baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari
yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit, karena jarang
makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena
typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya.
Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia
memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Andi saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah
melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia milii. Matanya bersinar indah,
penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti
berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap
orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta
begitu mendengar dia bercerita. Meisha tidak pernah kenal dekat
dengan Andi selama mereka kuliah dulu, Meisha
bercerita Andi sangat pendiam, sehingga jarang punya teman
yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka
yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu
dengan Andi yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya
bekerja.
Aku mulai mengingat 2-5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis
pada Andi,setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan
dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan
mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering termenung di depan
komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada
pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Andi sakit dan masih
dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan
wajah kesal, karena Andi tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk
kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, “Hai Rima, kenapa dengan anak
sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini
piringnya”, lalu dia terus mengajak Andi bercerita sambil
menyuapi Andi, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya.
Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata
suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui
bersamanya, tidak pernah sedetikpun!
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi
aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa
sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari
rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah
payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang
tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih
suka mencumbu komputernya dibanding aku. Tapi aku tidak pernah bisa marah
setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2,
membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku
jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2
anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati
bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak
dihatinya. Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah
menyangka, hatiku pun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak
sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting
ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email
Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?” Aku
tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada
Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku. Ketika aku menikahinya, aku
tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan
bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang
tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin
menyakiti perasaannya.
Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi
aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku
cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun
aku menikahinya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta
untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2
beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya.
Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami,
namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang
lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun
hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima
bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama
aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak
jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok
yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are
the only one in my heart.
yours,
Andi
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru
berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan
menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia
bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak
itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan
di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan
untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan
tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk
mengantardan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah
lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk
dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama
pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak
pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang
perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak
mengatakan saja,bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu
lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu
menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Andi terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah
dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu,
aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu.
Kebahagiaan Andi adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan
selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman
itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga. “Andi, suamiku….Aku tidak
pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan
membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan
tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan.
Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering
marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di
atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si
puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu
terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan
kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu
yang aku tahu sebenarnya menyukai Andi. Aku melihat matamu
begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia
sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?” Aku tidak perduli,dan
berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. Sekarang aku menyesal, memintamu
melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam
kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu, Rima”
Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah
melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang
penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang
Meisha……”
Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah
berubah, Andi. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku
tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak,
dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan
selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu
tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk
menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau
sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai
tertidur disamping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena
penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap
berusaha dan menantinya……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya…
dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun
lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu
pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia.
Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan
basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya
mengendarai motor.
Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak
sakit. Tahukah engkau suamiku, Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu,
6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku
melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai
bersemi dihatimu ?………”
Jelita menatap Meisha, dan bercerita, “Siang itu Mama menjemputku dengan
motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan
tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari
mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2
kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang
jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan
dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku
melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”. Jelita
memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk
merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan
selembar kertas yang dia print tadi pagi. Andi mengirimkan email lagi
kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2
dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh
basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2
aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai
bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan
besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil
mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan
karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Andi yang tampak semakin ringkih, yang masih
terduduk disamping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam.
Semuanya telah terjadi, Andi……
Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah
pergi meninggalkan
kita.………………………………………sekian (sumber; seorang sahabat )

Comments
Post a Comment