Cara Menumbuhkan Rasa Takut pada Allah

Rasa takut merupakan nikmat dari Allah Swt. Sayangnya tidak semua manusia mengetahui hakikat nya,
yakni kepada siapa rasa takut tersebut diberikan. Sangat banyak manusia yang memiliki rasa takut bukan kepada Allah Swt.

Betapa banyak manusia yang sangat takut terhadap kemiskinan, wabah penyakit, musibah, bencana, keja­hatan orang lain, dan puncaknya takut akan kematian. Tetapi mereka sama sekali tidak takut kepada siapa yang  berkuasa atas seluruh kejadian tersebut. Seorang mukmin semestinya memahami bahwa hanya kepada Allah Swt saja rasa takut ditujukan. Lalu, bagaimanakah kiat menumbuhkan rasa takut yang benar  itu? Berikut tips-tipsnya.

Pertama, menyadari bahwa peradaban mulia akan lahir kembali ketika rasa takut kepada Allah Swt telah melebihi rasa takutnya kepada selain-Nya.
Allah Swt  berfirman:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا (٣٩ 

"Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seseorang pun selain kepada Allah.  Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan." (Al­ Ahzaab [33] : 39)

Begitulah seharusnya manusia menjalani kehidupan ini. Bukankah Rasulullah Saw adalah manusia paling dicintai Allah Swt? Begitu pula sebaliknya. Namun, beliau  justru menjadi orang yang paling takut kepada Allah Swt· Allah Swt mengabadikan sifat takut kepada Allah Swt ini lewat ayat berikut:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (١٦ 

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh  rasa takut (khauj) dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka':"  (As-Sajdah [32]: 16)

Rasa takut tersebut lahir karena Rasulullah ~ paling mengenal Rab-Nyadan paling dekat kepada-Nya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya:· (Riwayat Bukhari-Muslim)

Kedua, meneladani sifat para Sahabat Nabi Saw yang rela berjuang dan berkorban dengan harta dan jiwanya. Mereka menjual dirinya kepada Allah Swt semata-mata  karena rasa takutnya kepada Allah Swt. terutama takut akan murka dan siksa-Nya di hari kemudian. 

Khalifah Umar bin Khaththab ~. sahabat mulia dan dijamin masuk surga, suatu hari berkata, "Andai terdengar suara dari langit yang berkata, 'Wahai manusia,  kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja: Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku:' (Riwayat Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah, 138)

Ketiga, mencontoh bobot rasa takut para ulama terhadap Allah Swt. sebagaimana firman-Nya: 

..إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ..

"...Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah ulama." (Fathir [35]: 28)

Ketika menjelaskan ayat tersebut Al-Hafizh lbnu Katsir mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib Ra. "Sesungguhnya, orang berilmu yang sebenar-benarnya adalah orang yang tidak menyebabkan manusia putus asa dari rahmat Allah Swt tidak memberi kemudahan kepada mereka untuk bermaksiat kepada-Nya, tidak memberi rasa aman kepada mereka dari siksaan-Nya, serta tidak menyebabkan manusia meninggalkan al-Qur'an dan mencari selainnya. Sesungguhnya, tidak ada kebaikan dalam satu ibadah yang tidak dibarengi ilmu. Tidak pula ada kebaikan pada satu ilmu yang tidak terkandung
pemahaman. Dan tidak ada kebaikan dalam membaca al­ Qur'an yang tidak disertai tadabbur"

Para ulama yang memiliki ilmu syariat dan meng­amalkannya adalah orang-orang yang paling mengenal  Allah Swt· Mereka memahami betul kebesaran Allah  Swt dan keperkasaan-Nya. Mereka juga mengerti sekali betapa pedih azab-Nya. Semua itu membuat bertambah besar rasa takut mereka kepada Allah Swt.

Nabi Muhammad Saw bersabda kepada para Sahabat beliau, "Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah yang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah;' (Riwayat Tirmidzi, No. 2234)

Demikian pentingnya rasa takut ke­pada Allah Swt sehingga seorang mukmin harus memastikan setiap tindakannya dilakukan dengan penuh kehati­-hatian. Bagaimana caranya, berikut uraiannya:

1.Tidak melaku­ kan perbuatan yang dapat mengundang murka Allah Swt· 
Allah Swt memberi contoh sosok Fir'aun sebagai sosok yang sangat  ingin menjadi tandingan-Nya. Padahal, upaya Fir'aun ini jelas sia-sia. Bahkan, sebagaimana ditulis dalam al-Qur' an surat Az-zukruf [ 43]ayat 54 hingga 55, upaya Fir'aun ini mengundang murka Allah Swt· Akibatnya, ia bersama kaumnya ditenggelarnkan di laut.

2. Tidak menyombongkan diri seolah-olah tidak membutuhkan bantuan Allah Swt· 
Sosok yang tepat menjadi contoh hal ini adalah Qarun. Karena kesombongannya, Qarun ditenggelamkan ke dalam bumi bersama hartanya, sebagaimana dikisahkan  oleh Allah Swt dalam al-Qur' an surat Al-Qashash [28] ayat 76-82.

3. Belajar dari kaum terdahulu yang telah diazab Allah Swt 
Siapapun yang tidak takut kepada Allah ~ sehingga berani melanggar ketentuanNya, maka akan mengalami akibat yang sama sebagaimana generasi terdahulu (silahkan lihat al-Qur'an surat al-Ankabuut [29] ayat 40). 

4. Membayangkan dahsyatnya api neraka. 
Siksa neraka yang dahsyatnya tak terbayangkan akan berlangsung berabad-abad lamanya. Bahkan ada yang  kekal di dalamnya. Rasulullah Saw. sebagaimana diriwayatkan oleh  Bukhari, Muslim,dan Tirmidzi, pada suatu hari berkata kepada Sahabat-sahabatnya,
"Api yang kalian semua nyalakan di dunia ini hanya satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahannam:' 

Para Sahabat berkata,
"Demi Allah, api dunia ini saja sudah amat panas ya Rasulullah:'
Beliau lalu berkata lagi,
"Memang, api neraka itu masih lebih panas, dan panasnya memiliki 69 bagian.  Suhu setiap bagian sama dengan api di dunia ini:'

Selain memahami tips-tips menumbuhkan rasa takut  kepada Allah Swt. kita juga harus mewaspadai apa saja yang dapat menghilangkannya. Salah satunya adalah  ceroboh dalam memilih teman.

Allah Swt dalam al-Qur'an surat al-Furqan [25] ayat 27 sampai 29 mengingatkan manusia lewat sebuah cerita tentang penyesalan orang-orang zalim manakala nyawa  telah terpisah dari raga.
"Kecelakaan besarlah bagiku. Kiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari  al-Qur'an ketika al-Qur'an itu telah datang kepadaku:'

Rasulullah Saw juga bersabda, sebagimana diriwayat  kanoleh Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Daud, "Seseorang itu tergantung kepada agama teinan dekatnya. Maka  hendaklah seseorang melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya:'

Wallahu a'lam bish Shawab.

(sumber al-Quran dan Hadist)

Comments

Popular posts from this blog