muslim wajib tau !! Keimanan Bukan sekadar akhlak , orang tua juga pokok keimanan!!!
Ada pertanyaan menarik yang perlu
direnungkan. Mengapa tak satu pun ayat dalam Al-Qur'an dan Hadits yang secara khusus mewajibkan orangtua untuk berbuat
baik kepada anaknya (dengan perintah biirul aulad)?
Sebaliknya,
tak sedikit ayat alQur'an maupun Hadits yang mewajibkan anak berbuat baik
kepada orangtuanya.
Jika para orangtua ditanya, mengapa mereka
mencintai anaknya? Mengapa mereka memberikan yang terbaik untuk anaknya?
Mengapa mereka rela berkorban apa saja demi anaknya? Semua orangtua nyaris
tidak bisa menjawab dengan tegas, kecuali mereka mengatakan, "Karena
mereka anak saya." Tidak ada alasan rasional dan logis mengapa para
orangtua mencintai anaknya. Begitulah gambaran tentang cinta orangtua kepada
anaknya.
Orangtua tidak perlu diajari bagaimana
mereka mencintai anaknya. Setiap orangtua, dari dulu hingga sekarang, bahkan
yang paling primitif sekalipun, pasti mencintai anaknya. Tak saja manusia,
bahkan makhluk yang lebih rendah dari manusia sekalipun pasti mencintai
anaknya. Jika cinta orangtua kepada anaknya bersifat alamiah, tidak demikian
dengan cinta anak kepada orangtuanya.Cinta anak kepada orangtuanya hanya berupa
potensi. la baru menjadi eksis jika disentuh dan dikembangkan.
Namun jika dibiarkan, ia tidak akan tumbuh
dan berdaya. Itulah sebabnya, Islam perlu mendorong, memotivasi, bahkan
mewajibkan kaum Muslimin untuk berbuat baik kepada orangtuanya. Meski demikian,
berbuat baik kepada orangtua, dalam Islam, bukan sekadar ajaran akhlak, tapi
juga pokok keimanan. Tidak sempurna, bahkan tidak sah keimanan seseorang yang
tidak berbuat baik kepada orangtuanya.
Allah SWT berfirman: yang artinya
''Dan sembahlah Allah dan jangan sekutukan
Dia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada orangtua ... " (An-Nisaa (4]:
36)
Ayat di atas, hanya satu di antara
beberapa ayat yang menegaskan kewajiban setiap anak berbuat baik kepada
orangtuanya. Kewajiban tersebut lebih banyak lagi didapatkan dalam Hadits-hadits
Rasulullah SAW. Para ulama juga sepakat bahwa berbuat baik kepada orangtua
termasuk salah satu cabang iman.
Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi
posisi dan kedudukan orangtua dalam ajaran Islam. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan sederhana, setelah kewajiban menyembah Allah SWT seorang
mukmin wajib berbuat baik kepada orangtuanya.
MENGAPA BERBUAT BAlK?
Orangtua berbuat baik kepada anaknya tanpa
perlu alasan apapun. Anak yang cacat pun tetap dicintai. Bahkan anak yang
durhaka kepada orangtua sekalipun tetap dicintainya. ltulah sebabnya Islam
tidak memberi dorongan yang berlebih dalam hal ini. Berbeda dengan
kewajiban birrul walidain, al-Qur'an memberikan alasan yang jelas mengapa setiap
anak harus berbuat baik kepada orangtuanya. Di antaranya, Allah SWT menegaskan:
''Dan Kami amanatkan kepada manusia untuk
berlaku baik terhadap kedua orangtuanya.lbunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah. Masa hamil dan penyapihannya tiga
puluh bulan ... (Al-Ahqaf [ 46]: 15)
Susah payah orangtua, terutama ibu,
mengandung, 11 melahirkan, dan
merawat anaknya, cukup dijadikan argumentasi
al-Qur'an, mengapa setiap anak wajib berbuat baik kepada
orangtuanya. Alasan tersebut dianggap cukup logis dan rasional, serta memenuhi rasa kemanusiaan dan
keagamaan.
Kebaikan apapun yang dilakukan oleh
seseorang, tidak akan pernah bisa menandingi kebaikan orangtua
saat mengandung dan melahirkan anaknya. Tidak
hanya jiwa dan raga, bahkan nyawa pun dipertaruhkan oleh seorang ibu saat melahirkan anaknya.
Kalau bukan karena cinta dan pengorbanan seorang ibu, tak seorang anak pun yang lahir di dunia
ini.
Jasa seseorang yang merawat anak,
mengasuh, mendidik, dan menyekolahkannya hingga perguruan tinggi sekalipun, tak
akan pernah bisa menandingi jasa orangtua yang mengandung dan melahirkan
anaknya. Peran orangtua yang mengandung dan melahirkan anaknya tidak bisa
ditandingi oleh kebaikan manapun. Itulah sebabnya, tidak boleh seseorang
menasabkan kepada orang lain di luar bapak dan ibu kandungnya, sekalipun orang
tersebut telah merawat, mengasuh, dan mendidiknya sejak kecil hingga dewasa.
Adopsi dalam Islam hukumnya haram secara mutlak. Adalah termasuk dosa jika
seorang anak malu dan merasa rendah diri jika mencantumkan nama orangtuanya di
belakang namanya. Ali bin Abi Thalib tidak pernah merasa terhina sekalipun
orangtuanya (Abu Thalib) sampai akhir hayatnya belum mengucapkan syahadat. Ali
RA tetap merasa terhomat dan bangga mencantumkan nama orangtuanya di belakang
namanya.
Suatu hari Zaid, anak asuh Rasulullah SAW
mencantumkan nama Zaid bin Muhammad karena kebanggannya kepada beliau.
Perbuatan tersebut langsung ditegur oleh Allah SWT dengan
keras. Zaid pun akhirnya tetap mengambil nama orangtuanya di belakang
namanya.
SETINGKAT 01 BAWAH IMAN KEPADA ALLAH
Puncak kebaikan adalah beribadah kepada
Allah SWT· Setingkat
di bawah ibadah kepada Allah SWT adalah birrul walidain. Rasulullah SAW pernah
menegaskan kepada lbnu Mas'ud, sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim, perbuatan baik yang paling dicintai oleh
Allah SWT setelah
beribadah kepada Allah SWT adalah berbuat baik kepada
kedua orangtua.
Allah SWT juga telah menuntun manusia
bagaimana cara memuliakan orangtua. Allah SWT berfirman:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaknya kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu
sekali-kali mengatakan kepada keduanya perkataan "ah” dan janganlah kamu
membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua
telah mendidikku sewaktu masih kecil'. 23-24) (Al-Isra
[17]:
Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,
"lbuku menghampiriku, sedang beliau seorang musyrik pada masa Nabi SAW· Saya
bertanya kepada Nabi SAW 'lbuku menghampiriku dan meminta bantuanku, bolehkah aku
membantunya?' Jawab Nabi, 'Ya, berhubunganlah dengan ibumu dan bantulah
dia':" (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Seseorang bertanya kepada Said lbnu
Musayyab tentang sikap hormat kepada kedua orangtua. Said menjawab, "Kamu
bersikap kepada kedua orangtuamu seperti seorang hamba bersikap kepada
tuannya." Begitulah gambaran birrul walidain dalam ajaran
Islam. Semoga kita bisa menjalankannya. Aamiin.
Wallahu a'lam bish Shawab.


Comments
Post a Comment