Belajar Memfungsikan Ajaran Islam pada diri sendiri
Islam diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam.Alam, karya Allah Ta'ala,
adalah bukti kongkrit bahwa Dia yang menguasai semua makhluk. Manusia yang
beriman menyadari sepenuhnya hal ini. Kesadaran tersebut melahirkan sebuah
ikrar bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah Ta'ala.
Konsekuensi dari ikrar tersebut adalah menjadikan diri sebagai pengabdi Sang
Pencipta dalam bentuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.Aturan mengenai hal ini termaktub semuanya dalam al-Qur'an.
Allah mengistimewakan manusia dibanding makbluk lain di alam ini. Karena
keistimewaan itulah maka Allah mempercayai manusia sebagai khalifah di bumi
ini. Kepercayaan itu tidak diberikan kepada malaikat, jin, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
Manusia juga diberi tuntunan agar tidak salah menjalankan perannya sebagai
khalifah. Tuntunan itu bisa berupa teladan yang diperlihatkan oleh para Nabi
dan Rasul, atau berupa wahyu Allah yang dikunpulkan dalam kitab
al-Qur'an.Sayangnya, manusia ingkar terhadap tuntunan lersebut. Manusia
memerankan fungsinya sebagai khalifah dengan caranya sendiri-sendiri. Manusia
merasa dirinya mampu tanpa harus dibimbing oleb wahyu. Akibatnya, musibah
terjadi di mana-mana. Sejak zaman Nabi Nuh hingga saat ini musibah datang silih
beganti.
Apakah ada jaminan bahwa dunia akan terhindar dari musibah jika ajaran
Allah diterapkan dengan seksama? Jawabnya ya. Allah menjanjikannya dalam
Al-Qur'an.Namun, sampai saat ini belum ada satu pun wilayah atau negara yang
menerapkan secara total Al-Qur'an dan as-Sunnah. Tak ada yang menempatkan
Al-Qur'an sebagai konsep bermasyarakat dan bernegara.
Lantas, bagaimana konsekuensi iman yang kita deklarasikan? Selevel apakah
deklarasi keimanan yang kita artikulasikan? Pertanyaan ini perlu kita jadikan
sarana untuk mengevaluasi diri agar benih kebangkitan iman yang menyelinap dalam
rongga dada mampu mendorong kita untuk bertanding ke gelanggang menegakkan inti
pesan al-Qur'an.
Al-Qur'an Surat al-Mudatsir mengajak kepada individu Mukmin agar segera
menyeru masyarakat kepada kebenaran. Surat ini mengajak orang-orang yang masih
"berselimut" di tengah problema umat agar segera bangkit menyusun
strategi dakwah. Rekrutmen kader dakwah harus terus digalakan. Cara perekrutan dan
pembinaan mereka harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan mahkamah
Allah.
Kualitas mereka juga harus bisa dipertanggungjawabkan. Merekalah yang akan
menjadi basis penerapan al-Qur'an sebagai konsep terbangunnya peradaban
Islam.Lebih dari itu, jiwa yang dilandasi Surat al-Mudatsir ini harus dapat
mempengaruhi lingkungan di mana ia berada. la harus mengubah lingkungan yang
tidak akrab dengan al-Qur'an menjadi lingkungan yang intim dengan
al-Qur'an.
Lingkungan tersebut kemudian akan menjadi magnet bagi lingkungan yang lebih
luas, termasuk negara. Manhaj Nubuwah (Silematika Nuzulnya Wahyu) harus bisa
melahirkan generasi qur'ani. Jika tidak bisa, maka yang salah bukan manhaj-nya
tetapi pelaku manhaj itu. Bisa saja telah terjadi salah urus.
Jarum jam terus berputar. Manusia menghabiskan wak'tu dengan beragam
aktivitas. Sedang Allah senantiasa menilai manusia, seberapa produktifkah
mereka mencari bekal untuk kehidupan akhirat. Produktivitas seseorang bukan
ditimbang .dari hartanya yang menumpuk, melainkan sebesar apa karya manusia
dalam mengimplementasikan al-Qur'an dalam kehidupannya sebari-hari.
'ibda' binafsik!" kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.
Awali dari dirimu. Jangan tunggu orang lain yang melaksanakan pekerjaan mulia
ini terlebih dahulu. Tegakkan Islam di rumah masing-masing. Tularkan ke
masyarakat sekitar. Lambat laun Islam akan mendunia. Wallaliu a 'lam.
(berbagai sumber)


Comments
Post a Comment