Kiat bahagia di dunia dan selamat di akhirat

Assalamualaikum para pembaca khazanah islam terupdate yang di muliakan Allah SWT, pada postingan kali ini saya mencoba mengulas beberapa kiat suapaya bahagia di dunia dan di akhirat, silahkan di baca dan jangan lupa di share ya,,

Tak ada manusia di dunia ini yang tak ingin hidup bahagia. Namun, tak ada pula yang sanggup membayangkan betapa ngerinya siksaan di neraka kelak. Manusia, dengan segala ego dan hawa nafsunya, kalau bisa,ingin hidup bahagia di dunia dan jika mati kelak masuk surga. Tapi, apa mungkin? Kebanyakan manusia,jika ditanya seperti itu, hanya bisa tersenyum sinis seraya menggelengkan kepala. Mana mungkin?  Kata mereka, "Memang gampang di zaman sekarang ini carl duit halal. "Yang lain berkata, "Cari yang haram saja susah, apalagi yang halal!"

Begitulah manusia! Mereka menyangka kebahagiaan itu identik dengan kekayaan dan jabatan. Padahal,manusia tak akan pernah puas. Dapat satu, ingin dua. Dapat seribu, ingin sejuta. Mereka tak akan pernah bisa membeli kebabagiaan dengan harta dan jabatan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda, "Andai seseorang itu sudah merniliki dua lembah dari emas pastilah ia akan mencari (lembah) yang Ketiga sebagai tambahan; (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Mereka lupa babwa kebahagiaan itu berada di dalam kalbu, tempat bersemayamnya iman kepada Sang Maha Pencipta. Selama mereka belum menyadari hal ini mana mungkin mereka menemukan kebahagiaan?  Adapun mereka yang telah menyadari bahwa sumber segala kebahagiaan adalah Allah Ta'ala pasti akan menempatkan Sang Maha Pencipta di atas segala·galanya.

Jalan ini memang tak mudah. Tapi, coba perhatikan, tak seorang pun yang menapaki jalan ini melewati hari tanpa tersenyum. Mereka bahagia di dunia, dan pasti akan selamat di akhirat.

Jika kita memiliki empat hal berturut-turut, yakni isteri tersayang. harta melimpah, kesehatan prima, dan yang terakhir, iman yang kokoh, lalu kita terpaksa melepaskan satu di antaranya, kira-kira mana yang dengan rela hati akan kita lepaskan?

Sebagian besar orang akan sulit menjawab pertanyaan itu. Sebab, keempatnya dianggap sama penting. Namun, jika kondisinya sangat memaksa dan kita harus mengambil satu pilihan, masing-masing orang akan punya pilihan yang berbeda.

Boleh jadi ada di antara kita yang memilih melepaskan harta, asal masih diberi kesebatan prima, isteri yang setia, dan iman yang melekat di dada. Barangkali ada juga yang memilih melepaskan kesehatan, asal masih kaya.

Tak tertutup kemungkinan jika ada yang memilih melepaskan isteri asal masih kaya dan sehat. Bisa jadi juga ada yang hendak melepaskan imannya asal tidak jatuh miskin, tidak sakit-sakitan, dan masih memiliki pendamping setia.


Pilihan Hakiki
Bagi orang yang sehat akal dan hatinya, pasti tak bingung menjawab pertanyaan di atas. Dia tentu akan memprioritaskan iman ketimbang yang lain. iman harus ia pertahankan sampai tetes darah penghabisan. Yaug lain boleh bilang, iman harus tetap dijaga.

Iman adalah milik kita yang paling berharga di dunia dan di akhirat. iman adalah sesuatu yang teramat penting. jauh lebih penting dari yang lain. Uang memang kita perlukan. Tanpa uang, banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan. Dengan uang kita bisa melakukan apa saja. Namun, uang bukan segala-galanya. Uang tidak bisa membeli nyawa, tidak bisa memperpanjang umur,juga tidak bisa membeli babagia dan cinta. Bahkan, uang bisa ludes dalam sekejap. Hari ini kaya raya, besok bisa miskin papa.

Kesehatan juga penting. Untuk apa punya harta melimpah jika sakit-sakitan. Sehat merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya.  Tapi,buat apa sehat jika "hidup tak memiliki kehormatan sedikit pun. Buat apa sehat jika tak memiliki sababat. Dan, sehat juga ada batasnya. Saat umur sudah tua, penyakit datang bertubi·tubi. Awalnya sakit ringan, lama­lama mematikan.

Jadi jelas harta dan kesehatan bukan paling penting dalam 'kehidupan kita. Allah Ta'ala jauh Jebih penting. Dia yang menciptakan kita. Dia menciptakan hidup dan mati. Dari·Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali. Dialah yang menjadikan kita sehat, kaya, terhormat, dan memiliki keluarga.

Hanya dengan Dia, semua menjadi ada. Namun, tanyakanlah pada hati kecil kita, apakah selama Ini kita telah menjadikan Allah Ta'ala nomorsatu dalam hidup kita? Apakah ketika Dia memanggil, maka panggilan itulah yang pertama kita penuhi?
Apakah jika Dia memerintah, maka perintah-Nya lah yang pertama kita patuhi Jika Dia membuat larangan, apakah larangan Dia-lah yang pertanma kita hindari? Sudahkah seperti itu?  Padahal seorang Mukmin tidak punya pilihan lain jika Allah Ta'ala sudah menetapkan sesuatu.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan  barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata. (AI-AhZab  (33]: 36).

Tak Ada Pilihan Lain
Ketika kita telah menetapkan Allah Ta'ala sebagai pilihan nomor satu, maka sikap kita terhadap semua ketentuan-Nya adalah ·sami'na wa atha'na" (kami mendengar dan kami taat).

Kita boleh bersikap kritis, akan letapi jika ketentuan itu datangnya dari Allah Ta'ala maka akal, pikiran, perasaan, dan  diri kita semuanya harus sujud, tunduk dan patuh kepada-Nya.

Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan."Kami mendengar, dan kami patuh. • Dan mereka itulah orang orang yang beruntung. (An-Nuur [24]: 51)

Ketika Allah Ta'ala telah kita jadikan prioritas teratas, maka beribadah kepada-Nya menjadi pekerjaan utama dalam hidup kita. Ridha Allah Ta'ala berada di atas segala·galanya. itulah tujuan hidupnya yang tertinggi.

Meski demikian, bukan berarti mereka tidak membutuhkan ridha manusia. Seperti manusia lainnya, mereka juga ingin mendapat simpati, dukungan, dan keridhaan masyarakat. Akan tetapi jika harus memilih satu di antara keduanya, kita tetap memilih ridba Allah Ta'ala.

Apalah artinya simpati dan dukungan umat jika mengakibatkan datangnya kebencian dan murka Allah Ta'ala . Dukungan masyarakat tidak akan mendatangkan apa-apa kecuali kehormatan dan penghargaan sesaat saja. Akan tetapi  keridhaan Allah Ta'ala akan mendatangkan kebabagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat.

Demikian halnya dengan kebencian manusia, sama sekali tidak akan mendatangkan bahaya sedikit pun kecuali jika telah dikehendaki Allah Ta'ala .
Bahkan, sekalipun seluruh manusia membenci dan murka kepadanya, lalu merencanakan untuk mendatangkan bahaya kepadanya, jikaAllah Ta'ala belum mengizinkan, tak sedikitpun bahaya itu akan rnenimpanya.

Sebaliknya, jika Allah Ta'ala sudah menetapkan suatu musibah kepada seseorang,sekalipun semua makhluk saling tolong-menolong untuk mencegahnya, musibah dan bencana itu pasti akan tetap datang jua. Tak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa mencegahnya.



Cinta Tertinggi
Demikian pula dengan cinta, kita wajib memberikan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya lebih dari yang lain. Memang, tak ada larangan menyintai orangtua, anak, dan isteri. Namun, cinta kepada Allah Ta'ala harus di atas semua itu. Cinta kita kepada isteri tidak boleh menghalangi cinta kita kepada Allah Ta'ala. Bahkan sebaliknya, cinta kepada isteri harus menambah kecintaan kita kepada-Nya. Untuk apa kita memiliki istri atau suami jika malah mengurangi cinta kita kepada Allah Ta'ala.

Begitu juga cinta kita kepada anak, harus dalam rangka cinta kepada Allah Ta'ala. Mencintai anak memang dorongan naluriah setiap makhluk, lebih-lebih manusia. Namun tidak boleh berlebihan. Cinta kepada anak harus ada batasnya. Batasnya adalah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya itu sendiri. Jika Allah Ta'ala mengizinkan, ya jalan. Jika Dia melarang, ya stop. Begitu praktis dan sederhana.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) bersabda,
"Barangsiapa megutamakan kecintaan Allah di atas kecintaan manusia, maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. • (Riwayat Ath Thabrani)

Mereka yang benar dalam memposisikan cintanya kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya digambarkan dalam Al-Qur 'an  sebagai berikut:

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintai­nya sebagaimana mereka rnencintai Allah. Adapun orang­orang yang ber'iman amat sangat cintanya kepada Allah.. (Al-Baqarah [2]: 165)

Cinta kita kepada selain Allah Ta'ala harus dibingkai dan dimotivasi karena kecintaan kita kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Persahabatan barus didasarkan karena Allah  Ta'ala (lillah). Begitu pula perkongsian bisnis, harus dilandasi cinta kepada Allah Ta'ala (Zillah) . Apalagi koalisi politik, tidak boleh hanya didasarkan pada kesamaan pandangan, terlebih sekadar kalkulasi untung rugi.

Koalisi politik barus didasarkan karena Allah Ta'ala. Rasulullah SAW bersabda, "Paling kuat tali hubungan keimanan adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. • (RiwayatAth-Thabrani)

Di dunia ini kita hidup dalam keterbatasan. Setidak­tidaknya kita dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita tidak bisa berada di dua tempat sekaligus. Karena itu,kita diwajibkan memilih mana yang prioritas,mana yang tidak. Kita harus menentukan mana yang utama dan mana yang tidak utama, mana yang pokok, mana pula yang ranting.

Jadi, jangan salah memilih. Jadikan Allah Ta'ala sebagai pilihan nomorsatu.
Wallahu a'lam bish·shawab

Comments

Popular posts from this blog