13 Kiat Rahasia menjadi manusia fitrah ilahiyah
Assalamualaikum para pembaca yang di rahmati Allah SWT. Pada postingan kali ini saya akan membahas kiat-kiat rahasia menjadi manusia fitrah ilahiyah yang belum di ketahui.
Manusia dalam literatur bahasa Arab berasa! dari kata al-insan. Bentukan dari kata dasar uns yang berarti jinak atau harmonis. Maka, fitrah manusia adalah memiliki potensi untuk menjalin hubungan secara harmonis dengan lingkungan sekitarnya, serta hubungan vertikal dengan Tuhannya.
Manusia dalam literatur bahasa Arab berasa! dari kata al-insan. Bentukan dari kata dasar uns yang berarti jinak atau harmonis. Maka, fitrah manusia adalah memiliki potensi untuk menjalin hubungan secara harmonis dengan lingkungan sekitarnya, serta hubungan vertikal dengan Tuhannya.
Hal itu karena
manusia adalah makhluk sosial (makhluq madaniyun). Menurut "bapak
sejarah dan sosiolog Muslim",Ibnu Khaldun, eksistensi manusia di akui
karena adanya relasi secara timbal balik dengan mamusia yang lain. Fitrah itu
akan tumbuh dengan bimbingan agama Islam.
Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam (SA\W) bersabda, "addinu huwal mua'amalah (agama
adalah tata pergaulan). •Manusia juga adalah makhluk beragama. Tanpa keyakinan
akan adanya Tuhan, manusia mengalami kehampaan spiritual. Ia mudah mengalami
goncangan batin, depresi, stres, kecemasan yang selalu mencekam, gugatan batin (nafsu
lawwamah), gundah-gulana, dan kehilangan arah.
Hidup orang tak
beragama tak akan bermakna. Dia akan memburu sesuatu yang berakhir dengan
kekecewaan. Hidup tanpa agama bagaikan musafir di padang sahara. la mengira sejauh mata memandang tampak ada
oase yang diharapkan bisa membasahi kerongkongannya. Setelah didatangi,
ternyata hanya fatamorgana.
Hanya agama yang
bisa membuat harta, tahta, dan wanita menjadi bermakna. Menolak adanya Tuhan
adalah mengingkari sesuatu yang melekat pada diri sendiri sejak lahir,
sekaligus menyingkirkan dimensi ruhani (Ahmad Amin dalam Dhuhal Islam). Sama
seperti menafikkan sinar matahari di siang bolong. Jadi, menolak kebenaran sama
dengan membohongi diri sendiri.
Kiat-kiat
Manusia suka
tidak konsisten memelihara kesehatan ruhaninya. Ini karena lingkungan sosial
yang buruk. Akibatnya, timbullah penyimpangan dan pelanggaran. Agar dimensi
ketuhanan tetap dominan, berikut kiat-kiatnya:
1. 1.Menyadari bahwa
manusia tidak semata-mata terdiri dari susunan jasmani, tetapi makhluk
berTuhan.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (ke-esaan Tuhan)'. "(AI-Araf(7]: 172)
Di ayat lain
Allah Ta'ala berfirman, "Maka apabila telah Ku sempurnakan
kejadiarrnya dan Ku tiupkan kepadanya ruh ( ciptaan)-Ku, maka hendaklah
kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (Shad [38) : 72)
2. Menyadari bahwa kehidupan dan kematian, harta dan
tahta, adalah ujian untuk mempartahankan keimanan.
Allah Ta'ala berfinnan,
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji karnu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."(Al-Mulk
(67) :2)
Sebuah syair Arab
mengatakan, "Apabila engkau membawa keranda ke kuburan, ketahuilah bahwa
engkau akan digotong. Dan apabila engkau diserahi (dititipi) urusan oleh kaum,
sadarilah suatu saat engkau akan dimakzulkan ( dilengserkan)."
3· Menyadari bahwa fase kehidupan di dunia bukan Masa
akhir.
Allah Ta'ala berfirman,
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu AIIah
menghidupkan kamu (di a/am rahim), kemudian kamu dimatikan ( di alam barzah) dan
dihidupkan-Nya kembali (kiamat), kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (
akhirat)?"
(Al-Baqarah [2):
28)
4· Menyadari bahwa kehidupan ini adalah amanah yang
sangat berat.
Allah Ta'ala pernah
menawarakan amanah (tugas-tugas keagamaan) ini kepada langit, bumi, dan gunung.
Semuanya tidak sanggup memikulnya. Kemudian dititipkan kepada manusia. Dan,
manusia.menerimanya.
Allah Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gununggunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." (Al-Ahzab [33]:72)
5· Menyadari bahwa tujuan utama kehadiran manusia di
dunia adalah beribadah kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepadaKu." (Adz-Dzariyat [51]: 56)
Pada ayat lain
Allah Ta'ala berfirman, "Dan kepada\Tsamud (Kami utus) saudara
mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah)
dan menjadikan kamu pemakmurnya.Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian
bertobatlah kepada-Nya. SesungguhnyaTuhanku amat dekat (rahmatNya) lagi
memperkenankan (doa hamba-Nya)." (Hud [11]: 61)
6. Kehidupan ini akan bermakna jika kehadiran kita
dirindukan orang banyak dan kepergian kita ditangisi.
Syauqi Beik
pernah berkata, "Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis,
orang-orang di sekelilingmu tertawa. Maka berusahalah ketika engkau meninggal
dalam keadaan gembira, dan orang-orang di sekitarmu menangis (karena kehilangan)."
7· Menyadari bahwa langit dan bumi beserta isinya adalah
fasilitas untuk melaksanakan amanah Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan
dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit, dan Dia
Maha mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah [2]: 29)
8. Menyadari bahwa semua makhluk mengagungkan-Nya sesuai
dengan bahasanya sendiri.
Allah Ta'ala berfirman,
"Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi,Raja, yang Maha Suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.* (Al-Jumuah
[62]: 1)
9. Menyadari bahwa semua nikmat yang dianugrahkan
kepada kita akan ditanyakan secara rinci asal dan peruntukannya.
Allah Ta'ala berfirman, "Kemudian
kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu
megah-megahkan di dunia itu)." (At-Tahtsur [102]: 8)
Rasulullah ShallaUahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak akan bergeser telapak kaki manusia
di hari kiamat nanti Sehingga mereka akan ditanya empat hal: dari usianya untuk
apakah dihabiskannya, dari tubuhnya untuk apa ia mempergunakannya, dari
hartanya dari mana ia memperolehnya dan kemana ia membelanjakannya, dan dari kecintaannya
kepada kami, keluarga Nabi (ahlul bait)," (Riwayat Thabrani).
10.Menyadari bahwa semua harta, jika tidak digunakan
untuk menyukseskan amanah, akan menyiksa
pemlliknya di dunia dan akhirat.
Allah Ta'ala berfirman,
"Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka,
lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka, inilah harta bendamu
yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari)
apa yang kamu simpan itu" (At-Taubah [9]: 35).
11. Memandang keberhasilan dan kegagalan dengan semangat
yang sama.
Dua keadaan yang
bertolak belakang ini adalah ujian belaka, bukan kehormatan dan kehinaan. Allah
Ta'ala berfirman, "Karni akan menguji karnu dengan
kebaikan dan keburukan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada
Kamilah kamu dikembalikan," (Al-Anbiya [21]: 35).
12. Menyadari keadaan sakaratul maut
seseorang berbanding lurus dengan obsesi dan hobinya di dunia.
13.Menyadari bahwa keberhasilan yang hakiki adalah ketika
mengakhiri kehidupan ini dalam keadaan husnul khatimah.
Allah Ta'ala berfirman,
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku,masuklah kedalam
surga-Ku," (Al-Fajr [89]: 27-30).
Wallahu a’lam
bish-shawab. •••
Itulah 13 kiat supaya kita
menjadi manusia yang fitrah, semoga bermanfaat amiiiin

Comments
Post a Comment