IBU

Sekarang banyak Muslimah tak percaya diri menjadi ibu rumah tangga. Lalu mati-matian mengejar profesi lain.

Berbicara gelar memang tak sedikit orang yang ingin memilikinya,bahkan sebagian lagi sangat  membanggakannya. Ada orangtua seorang gadis yang sedang di lamar, harus tahu gelar laki-laki yang melamar anaknya. Tak jarang hanya karena gelar, proses pernikahan dipersulit dan dipermasalahkan oleh pihak keluarga.

TAK PERLU GALAU
Bagi seorang wanita ada satu gelar yang sangat istimewa. Gelar yang akan menjadikannya wanita seutuhnya. Gelar itu adalah "ibu".lbu biasanya digunakan sebagai panggilan untuk orangtua perempuan yang telah melahirkan kita, atau kepada wanita yang dihormati seperti guru kita, orang dewasa yang lebih tua dan berbagai profesi lainnya. Namun yang ingin saya bahas di sini terkhusus kepada "ibu" yang telah melahirkan kita.

Ada sebagian ibu-ibu yang merasa galau dan tidak percaya diri dengan statusnya yang hanya seorang Ibu rumah tangga.Rasa kurang percaya diri itu akhirnya menular kepada anaknya dan merasa malu menuliskan pekerjaan ibunyadi lembar biodata siswa, karena pekerjaan ibunya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga. Suatu status yang dianggap kurang spesial dibanding dengan ibu yang bekerja sebagai dokter, dosen dan sebagainya.

Seharusnya, gelar sebagai seorang "ibu" atau status ibu rumah tangga tak perlu dicemaskan atau merasa kurang percaya diri. Bukankah fitrah seorang wanita itu memang menjadi ibu? Sayangnya banyak wanita yang ingin menyalahi fitrahnya sehingga status itu dianggap remeh dan hanya dilirik sebelah mata. Padahal jika ingin menelusuri lebih jauh, tidak semua wanita mampu mengemban amanahnya. Contohnya kasus aborsi, ini bukti tidak amanah seorang ibu terhadap titipan Allah SWT. 

Atau seorang anak yang tak mendapatkan kasih sayang dari ibu yang melahirkannya karena alasan sibuk dengan pekerjaan. Pada kasus ibu yang bekerja, hak anak untuk mendapatkan air susu ibu sering 'diambil alih' oleh botol. Belum lagi pola didik yang salah. Mendidik dengan kekerasan, cubitan dan pukulan menjadikan anak kehilangan kasih sayang dan bertingkah tak sesuai dengan yang diharapkan. Begitupun dengan anak yang tumbuh besar dalam asuhan babysitter atau pembantu sehingga jiwa mereka lebih dekat dengan orang lain dibanding orangtua sendiri, khususnya ibu.

Padahal ada begitu banyak kemuliaan dan keutamaan dari status sebagai ibu. Bagi yang sudah menyandang predikat tersebut, berbahagialah karena Allah SWT mengaruniakan sesuatu yang tak ternilai harganya. Bila si buah hati mampu menyejukkan pandangan, sungguh itu suatu hal yang tak ternilai harganya.Belum lagi jika dari mulutnya yang imut terlontar panggilan Ayah, Bunda, pastinya kita akan bahagia mendengarnya.

Bagi calon ibu, teruslah belajar bagaimana menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anaknya kelak. Senantiasa belajar menjadi ibu yang dicintai oleh anak-anaknya. lbu yang dirindukan oleh anak-anaknya. lbu yang senantiasa didoakan oleh anak-anaknya. lbu yang mampu menjadi teman bagi anak­ anaknya. lbu yang bersungguh-sungguh mendidik dengan kasih sayang,mengajarkan kebaikan, menjadi teladan, dan membimbing putra­putrinya menuju surga. Sehingga predikat "ibu" tak sekadar gelar.

Namun benar-benar sebuah gelar  yang menjadikan derajat kita tinggi disisi-Nya. Sebab amanah dengan status tersebut tanpa iri dengan status orang lain yang mungkin di mata kita lebih tinggi, namun belum tentu lebih mulia di mata Allah SWT.

PERSIAPKAN DIRI  
Tidak semua wanita yang telah menikah dianugerahi status sebagai "ibu". Bisa saja Allah Ta'ala  belum mengamanahi seorang anak dalam waktu tertentu agar lebih mepersiapkan diri. Namun ada juga yang selepas nikah langsung dikaruniai buah hati kepadanya. Semua itu adalah kemahakuasaan Allah. Sebagai pelaku kehidupan khususnya wanita, kita hanya perlu untuk belajar dan terus mengasah diri menjadi ibu yang sesungguhnya. Jika Allah menyegerakan karunia berupa buah hati untuk kita, hendaknya bersyukur dan terus berikhtiar belajar menjadi pendidik terbaik untuk mereka.

Persiapan untuk menjadi ibu butuh perhatian khusus, utamanya bagi wanita. Bahkan sebelum menuju ke jenjang pernikahan pun sudah harus banyak tahu tentang tugas dan tanggungjawab sebagai Muslimah dan urusan kerumahtanggaan seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah. Tentunya kita tidak ingin menjadi wanita yang berpikiran instan: mempekerjakan pembantu atau membeli teknologi. Syukurlah kalau pasangan kita mampu memenuhi apa yang kita inginkan, karena gajinya cukup untuk hal tersebut. Namun bagaimana jika pasangan kita belum mampu? Tentunya kitalah sebagai istri atau ibu yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, dibantu oleh suami atau pasangan kita. Pekerjaaan rumah tangga mungkin terasa berat, namun bukan berarti harus diserahkan kepada orang lain.

Bukankah Fatimah binti Muhammad SAW juga pernah mengalami hal demikian? Beliau menumbuk gandum sampai tangannya melepuh, dan meminta pembantu kepada ayahnya untuk meringankan bebannya. Apa kata ayahnya yang juga seorang rasul? Bukannya pembatu yang didapat, tapi kalimat thayyibah yang mampu menenangkan hati putrinya. lngat, Fatimah adalah putri seorang nabi, seorang rasul yang dimuliakan Allah SWT manusia paling mulia. Namun beliau juga melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangannya sendiri.

Cukuplah beliau menjadi teladan bagi Muslimah atau ibu lainnya. Lantas masihkah kita ingin mengeluh dan merasa berat? Begitupun ibu-ibu yang sudah diringankan pekerjaan rumahnya dengan pembantu atau bantuan alat elektronik, maka bersyukurlah dan jadilah Muslimah sejati. Yaitu ibu yang mampu mendidik putra-putrinya dengan didikan seperti yang Nabi SAW ajarkan. Mendidik sebagaimana ibunda para ulama yang mampu melahirkan anak brilian layaknya lmam Syafi'i. lbu para ulama itu menjadikan hanya Allah Ta'ala sebagai ruh keimanan dan satu-satunya tujuan dalam hidupnya.

mohon di share ya! Insya Allah semoga semua wanita di dunia bisa menjadi wanita dan muslimah sejati,, aaaamiiiiiinnnnn

Comments

Popular posts from this blog