Mengapa Harus Ujub????
Betapa banyak diantara kita yang berusaha untuk berlari kencang menjauhi
riyaa' karena takut amalan kita hancur lebur terkena penyakit riya.
Akan tetapi
pada waktu yang bersamaan jiwa kita terulurkan dalam dekapan ujub…, bangga
dengan amalan yang telah kita lakukan.., bangga dengan ilmu yang telah kita
miliki…, bangga dengan keberhasilan dakwah kita.., bangga dengan
kalimat-kalimat indah yang kita rangkai…, dst…??!!
Bukankah ujub juga menggugurkan amalan sebagaimana riyaa'..??
Bukankah ujub juga menyebabkan pelakunya terjerumus dalam neraka jahannam sebagaimana riyaa'…?
Bukankah ujub juga merupakan salah satu bentuk syirik kecil sebagaimana
riya'…??
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
"Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa' dan ujub. Riyaa
termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada
orang lain-pen) adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu
merasa dirinyalah atau kehebatannyalah yang membuat ia bisa berkarya). Ini
merupkan kondisi orang yang sombong.Orang yang riyaa' tidak merealisasikan
firman Allah "Hanya kepadaMulah kami beribadah", dan
orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah "Dan hanya
kepada Mulah kami memohon pertolongan".
Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah "Hanya
kepadaMulah kami beribadah" maka ia akan keluar lepas dari
riyaa', dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah "Dan
hanya kepada Mulah kami memohon pertolongan". maka ia akan
keluar terlepas dari ujub" (Majmuu' Al-Fataawaa 10/277).
Rasulullah bersabda :yang artinya
"Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu
yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri"(HR at-hobroni dalam
Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan
oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)
Seorang penyair berkata :
Jauhilah penyakit ujub, sesungguhnya penyakit ujub akan menggeret amalan
pelakunya ke dalam aliran deras arusnya.
Lantas kenapa kita begitu waspada terhadap riyaa namun melalaikan penyakit ujub…?
Sesungguhnya racun ujub akan mengantarkan pelakunya kepada
penyakit-penyakit kronis lainnya, diantaranya :
- Lupa untuk bersyukur kepada Allah, bahkan malah mensyukuri diri sendiri,
seakan-akan amalan yang telah dia lakukan adalah karena kehebatannya
- Lenyap darinya sifat tunduk dan merendah dihadapan Allah yang telah
menganugrahkan segala kelebihan dan kenikmatan kepadanya
- Terlebih jelas lagi lenyap sikap tawadhu' dihadapan manusia
- Bersikap sombong (merasa tinggi) dan merendahkan orang lain, tidak mau
mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Jiwanya senantiasa
mengajaknya untuk menyatakan bahwasanya dialah yang terbaik, dan apa yang telah
diamalkan oleh orang lain merupakan perkara yang biasa yang tidak patut untuk
dipuji. Berbeda dengan amalan dan karya yang telah ia lakukan maka patut untuk
diacungkan jempol.
Kalimat indah yang pernah diucapkan oleh seorang ulama
:
"Orang yang ujub merasa bahwa dirinya paling
tinggi
dihadapan manusia yang lain… bahkan merasa
dirinya lebih tinggi di sisi Allah.., namun pada
hakikatnya dialah orang yang paling rendah dan hina
di sisi Allah".
Kenapa Mesti Ujub?
Sebelum kita terlena dengan ujub yang menggerogoti hati kita maka hendaknya
kita renungkan tentang diri kita. Kenapa kita ujub..??, bukankah kita ujub
karena amalan kita serta hasil karya yang banyak dan hebat…??. Jika perkaranya
demikian maka hendaknya renungkanlah perkara-perkara berikut ini :
Pertama : Sudah yakinkah amalan-amalan kita tersebut dibangun di atas
keikhlasan kepada Allah??
Ikhlas merupakan perkara yang sangat mulia, yang menjadikan pelakunya
menjadi sangat tinggi dan mulia di sisi Allah.Orang yang ikhlas hatinya hanya
sibuk mengaharapkan keridhoan Allah dan tidak peduli dengan komentar dan
penilaian manusia yang tidak memberi kemanfaatan dan tidak memudhorotkan.Yang
paling penting baginya adalah penilaian Allah terhadap amalannya. Orang yang
ikhlas adalah orang yang amalannya tatkala bersendirian lebih banyak daripda
amalannya tatkala dilihat oleh orang lain.
Kedua : Bukankah banyak hal yang bisa menggugurkan amalan-amalan kita
tersebut??
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata "Penggugur dan perusak amalan
sangatlah banyak. Dan yang penting adalah bagaimana menjaga amal agar tidak
rusak dan gugur bukan yang penting adalah beramalnya."
Riyaa' meskipun sekecil apapun merupakan penggugur amal, dan
bentuk-bentuknya sangatlah banyak. Demikian juga amalan yang tidak
dibangun diatas ittibaa' sunnah juga merupakan penggugur amalan. Sikap al-mann
dalam hati terhadap Allah (yaitu merasa telah berbuat baik kepada
Allah dengan mengungkit-ngungkit dan menyebut-nyebut kebaikan tersebut )
juga menghancurkan amalan. Demikian juga sikap al-mann (yaitu
mengungkit-ngungkitnya) dalam sedekah, berbuat kebaikan, dan bersilaturahmi
juga membatalkan amalan, sebagaimana firman Allah:
...يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima):"(surat albaqarah ;264)
Dan mayoritas manusia tidak mengetahui tentang hal-hal buruk yang bisa
menggugurkan amalan-amalan kebajikan. Allah
telah berfirman yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu
melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang
keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain,
supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari
"(QS Al-Hujuroot : 2)
Maka (dalam ayat ini) Allah telah mengingatkan kaum mukminin agar amalan
mereka tidak gugur karena mereka mengeraskan suara mereka kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana mereka mengeraskan suara diantara
mereka. Hal ini bukanlah kemurtadan akan tetapi merupakan kemaksiatan yang
menggugurkan amalan dan pelakunya tidak sadar. Maka bagaimana lagi dengan orang
yang mendahulukan perkataan seseorang di atas perkataan Nabi shallallahu
'alaihi
wa sallam, petunjuknya, dan jalannya??, bukankah amalannya telah gugur dan
dia dalam keadaan tidak sadar??!!
Diantara hal yang menggugurkan amalan adalah sebagaimana sabda Rasulullah
SAW "Barangsiapa yang meninggalkan sholat ashar maka telah gugur
amalannya" (HR Al-Bukhari no 553)
Dan termasuk dalam hal ini perkataan Aisyah –semoga Allah meridhoinya dan
meridhoi ayahnya- kepada Zaid bin Arqom rahdiallahu 'anhu tatkala melakukan
transaksi dengan sistem 'iinah (riba)
"Sesungguhnya ia (Zaid) telah menggugurkan (pahala) jihadnya bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali jika ia bertaubat"
Transaksi dengan system 'iinah bukanlah kemurtadan, paling banter ia
merupakan kemaksiatan.Oleh karenanya mengetahui perkara-perkara yang bisa
membatalkan amal tatkala amalan sedang dikerjakan dan demikian juga hal-hal
yang bisa membatalkan amal setelah dikerjakannya amal merupakan perkara yang
sangat penting untuk diketahui oleh seorang hamba dan diwaspadai serta untuk
mengecek dirinya" (Al-Wabil As-Shoyyib 21-22)
Ketiga : Bukankah penilaian Allah yang paling utama adalah tentang hati dan
keimanan seseorang?, bukan hanya sekedar amalan yang dzohir??
Betapa banyak orang yang dzohirnya kurang amalannya dan seakan-akan mata
kita merendahkannya, namun ternyata ia sangat tinggi di sisi Allah. Sebagai
contoh nyata adalah Uwais Al-Qarni rahimahullah.
(lihat http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/08/kisah-uwais-al-qarni-hikmah-taat
kepada.html)
Keempat : Betapa banyak dosa yang kita lakukan tanpa kita sadari, dan betapa
banyak dosa yang kita lakukan dan kita sadari namun kita melupakannya?? Betapa
sering kita melupakan dosa-dosa yang kita lakukan.., bukankah terlalu banyak
dosa yang dilakukan oleh kedua mata kita..??, dosa yang dilakukan oleh kedua
telinga kita..??, dosa-dosa yang dilakukan oleh lisan kita..??, dosa-dosa yang
dilakukan oleh hati kita…??
Sebagai contoh, coba sekarang kita berusaha untuk mengingat kembali
dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh lisan kita..??, apakah kita masih ingat
siapa saja yang pernah kita ghibahi..??, siapa saja yang pernah kita sakiti
hatinya dengan perkataan kita…??. Tentu kebanyakannya telah kita lupakan. Belum
lagi dosa-dosa yang pernah kita lakukan dengan hati kita..?? Bukankah takabbur,
hasad, berburuk sangka juga merupakan dosa…??
Jika perkaranya demikian…bahwasanya tidak satu amalanpun yang kita yakini
kita lakukan ikhlas karena Allah…dan tidak satu amalanpun yang ikhlas kita
lakukan lantas kita yakin pasti diterima oleh Allah karena selamat dari hal-hal
yang merusaknya…, maka apakah yang bisa kita banggakan untuk bisa ujub di
hadapan Allah dan merasa lebih baik dari orang lain…???.
mari qta renungkan kembali dan semoga qta di jauhkan dari golongan2 orang
yg ujub dan riya amiin ya rabbal alamin ( banyak sumber)


Comments
Post a Comment