Inilah mutiara dari alquran salah satu Rahasia Keimanan yang Kokoh



"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena
orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi
Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; 
dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." 
(AI-Buruj [85]: 8-9).


Ayat di atas termaktub dalam surat al-Buruj (Gugusan Bintang-bintang). Surat ini terbilang ringkas namun mampu mengungkap hakikat aqidah yang sesungguhnya dan pokok-pokok keyakinan kepada Allah SWT· Padanya terdapat inti persoalan yang mampu membentangkan cahaya keyakinan begitu luas. Cahaya tersebut tak hanya mengakar kuat dalam diri orang beriman, tapi juga sanggup melantakkan dinding-dinding kepongahan para penguasa yang zalim. Demikian gugah Sayyid Quthb melukiskan tadabburnya dalam Tafsir fi Dzhilal al-Qur'an terhadap surat Makkiyah tersebut.

Surat ini diawali dengan kisah Ashab al-Ukhdud. Tentang keyakinan seorang pemuda yang mampu mengguncang rezim penguasa diktator di negerinya ketika itu. Sebuah keyakinan yang kokoh dan mengantarnya rela menjemput kematian di ujung anak panah yang menembus dadanya. Singkat kata, murka raja tersebut kian memuncak sebab seluruh penduduk negerinya turut beriman menjejak keyakinan pemuda tersebut. Alhasil, raja melempar satu persatu rakyatnya ke dalam parit yang sudah dipenuhi oleh kobaran api yang membumbung tinggi.

MAKNA AYAT
Menurut Quthb, inilah satu-satunya "kejahatan" orang mukmin yang membuatnya disiksa oleh orang-orang kafir. Senada dengan itu, al -Baghawi merangkum beberapa perkataan yang lain. Di antaranya, Ibn Abbas berpendapat, mereka dibenci hanya gara-gara berimankepada Allah SWT· Muqatil berkata, "cacat" itu bernama keyakinan kepada Allah SWT· Sedang Abdurrahman as­Sa'di menguatkan bahwa "dosa" orang mukmin itu hanya karena beriman Allah.

Jadi, mereka terlanjur meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Mereka tunduk dan pasrah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa untuk berbuat segala apa yang Dia kehendaki dan Maha Terpuji atas segala sifat dan perbuatan-Nya.la selamanya adalah Zat Yang Terpuji meski tak satu pun di antara makhluk yang memuji-Nya. Al-Maraghi menambahkan, hal itu tak sepantasnya membuat orang mukmin lalu dihukum atau disiksa. Sebab apa yang mereka yakini sejatinya mesti menjadi keyakinan seluruh manusia.Satu kebenaran yang harusdipegang teguh, bahkan menjadi kewajiban setiap mukmin mendakwahkan dan mengajarkan prinsip keimanan itu kepada orang lain.

Inilah, lanjut Quthb, sebagai buhul (tali) keimanan yang sebenarnya. lkatan yang mampu melarutkan hati menjadi teduh seteduh-teduhnya lalu dirasakan sebagai satu kedamaian dalam jiwa. Meski keyakinan tersebut harus berbenturan dengan rezim penguasa zalim sekalipun. Sebaliknya, fakta ini pula yang membuat orang-orang kafir dan fasik kian gusar terhadap orang beriman.Mereka bertambah murka melihat keyakinan seorang mukmin tak juga goyah. Kemarahan mereka makin bergolak sebab simpul keimanan itu tak juga bercerai meski telah disiksa dan dibunuh sekalipun. Sedang Allah Maha Menyaksikan atas segala yang diperbuat oleh hamba-hamba-Nya. Dan, cukuplah Allah SWT dengan  Maha Menyaksikan-Nya tersebut.

DUA PENGOKOH KEIMANAN

Lebih jauh, mufassir asy-Syinqithi mengurai lebar soal lathaif lughawiyah (keindahan sastra) dari penyandaran dua sifat mulia Allah SWT yaitu al-Aziz dan al-Hamid pada ayat di atas. Menurutnya, sifat al-Aziz dimaksudkan untuk menampakkan keperkasaan dan kesanggupan Allah menolong orang-orang mukmin serta memberi balasan setimpal atas perbuatan orang-orang kafir.
Sebab logikanya, yang perkasa itulah yang menjadi pemenang kelak.Namun sifat al-Aziz (Mahaperkasa) itu disertai dengan sifat al-Hamid (Maha Terpuji) sebagai pesan tersirat selanjutnya bagi orang-orang beriman.

Pertama, lanjut asy-Syinqithi, agar orang beriman itu benar-benar punya keyakinan yang kokoh kepada Allah, dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan senang (raghbah) maupun takut (rahbah). Mereka cinta kepada Allah Yang Maha Terpuji, seperti tercermin dalam ayat selanjutnya; "Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih." (Al-Buruj [85]: 14.

Sebagaimana keimanan itu mengantar mereka takut kepada murka Allah SWT.seperti pada ayat "Sesungguhnya siksa Rabbmu amatlah pedih" (Al-Buruj [85]: 12). Inilah kesempurnaan iman seseorang, ketika ia teguh dalam segala kondisi yang menerpa perjalanan kehidupannya.

Perkara kedua, masih dalam Tafsir Adhwa al-Bayan  fi Idhah al-Qur'an, agar orang-orang kafir tersebut tidak langsung berputus asa dari rahmat dan hidayah Allah. Sebab di sana terbuka selebar-lebarnya peluang ampunan dari Allah bagi mereka yang datang bersimpuh dalam tobatnya. Sebaliknya, bagi mereka yang enggan bertobat kepada Allah SWT, hendaklah bersiap menerima ganjaran setimpal dan siksa yang amat pedih. Sebab Allah Maha Melihat atas perbuatan mereka kepada orang-orang beriman selama ini. Bahwa orang kafir tersebut pernah menyiksa wali-wali Allah hanya dikarenakan beriman kepada Sang Penciptanya.

Hal itu makin dikuatkan dengan penegasan Allah di ayat selanjutnya. Tak seorang pun di antara hamba-Nya yang luput dari kekuasaan Allah Ta'ala. Sebab Dia juga yang menguasai seluruh ciptaan yang ada di langit dan di bumi. Sebuah peringatan yang sangat keras, menurut asy-Syinqithi, kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah. Sekaligus menjadi pelipur lara dan nutrisi penyejuk bagi ketenangan hati orang-orang beriman.

KHATIMAH
Segala yang dijalani dalam kehidupan manusia di dunia ini selalu menyisakan hikmah. Sebab hakikat dunia adalah kehidupan sementara. Di dalamnya manusia lalu memproses dan menumbuhkan benih keimanannya. Ibarat suatu terminal, kehidupan dunia hanyalah perhentian sejenak menuju kampung akhirat nan abadi.


Meski fana, sesungguhnya kehidupan ini hanya menyisakan dua opsi bagi manusia. Menjadi hamba beriman dan bersyukur kepada Allah atau sebaliknya, berkumpul bersama manusia tak tahu diri yang mengingkari nikmat Allah SWT Selamanya pilihan tersebut menjadi dua kutub yang saling bertentangan satu dengan lainnya.

Oleh karena itu, ahli tafsir al-Maraghi mengingatkan, hendaknya keyakinan ini tak boleh pudar dalam jiwa orang mukmin. Apa yang didapati manusia di dunia hanyalah soal ujian dari Allah, untuk mengetahui siapa gerangan hamba-Nya yang aqidahnya tak tergoyahkan meski dengan benturan cobaan yang paling berat sekalipun.

"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (Al­Mulk [67]: 2). Wallahu a'lam.



Comments

Popular posts from this blog