Anak Bukan sekadar pelanjut keturunan tapi ada visi lain yang lebih penting.Apa itu ?
Tidak
dipungkiri dalam berkeluarga,kehadiran
anak sangat diharapkan.Terasa kurang sempurna sebuah
keluarga tanpa kehadiran buah hati.
Hal
ini sudah menjadi naluri manusia dan sah-sah
saja. Namun tidak sesederhana ini alasan
kita berhasrat
memiliki keturunan. Sebab, bagaimanapun anak bagi
orangtua adalah amanah yang harus dijaga dan dibina,
karena akan dipertanggungjawabkan kelak di
hadapan Allah SWT·
"Hai orang-orang yang
beriman,jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar
dan keras;mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan." (At-Tahrim [ 66):6).
Dalam Hadits sahih yang
sudah populer, Rasulullah SAW menegaskan,
"Setiap kamu adalah
pemimpin dan setiap kamu bertanggungjawab terhadap
kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggungjawab terhadap
nasib rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah
tangganya dan dia bertanggungjawab terhadap keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin
di rumah suaminya dan dia bertanggungjawab
terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta benda majikannya dan ia bertanggung jawab
terhadap kepemimpinannya." (Muttafaqun 'Aiaih).
Jelas sudah dari dua nash ini,
kita bisa menarik benang merah, hakikat anak adalah amanah. Untuk itu, tidak dibenarkan bila yang menjadi landasan utama kita
untuk berketurunan, misalnya guna melestarikan keturunan,
melanggengkan kekuasaan, menghindari rasa malu dari cemooh
orang lain.
Kita sebagai keluarga mukmin harus
memiliki visi jelas terhadap keturunanketurunan kita. Kejelasan visi ini akan menyelaraskan
persiapan dan langkahlangkah kita dalam mewujudkannya.
Tanpanya, sungguh kita akan
tersesat diperjalanan, laksana orang yang hendak
melakukan safar, namun tidak
memiliki arah tujuan yang jelas.
TELADAN NABI ZAKARIA
Berkaitan dengan pentingnya memiliki visi
yang benar dalam berketurunan, Nabi Zakaria bisa
kita jadikan panutan. Mulanya Nabi Zakaria hidup tanpa
seorang anak. Hingga pada hari tuanya, Allah SWT belum menganugerahi keturunan.
Namun, saban hari hasrat itu membumbung tinggi. Sedari itu doa pun terus dimunajatkan
kepada Allah
SWT agar Dia sudi menganugerahinya seorang anak.
Dan, alasan utama (visi) yang
mendasari keinginannya itu, bukan urusan keduniawian,
namun semata demi melanjutkan estafet
perjuangan dalam menegakkan kalimat Allah SWT di muka
bumi. Perhatikan doa Nabi Zakaria yang terabadikan dalam ai-Qur'an, "Dan
sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku,
sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku
dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi
sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang
yang diridhai "(Maryam (19]:S-6).
Dalam tafsir 'al-Mausu'atul Qur'aniyatul Nuyassarah', Prof Dr Wahbah
Zuhaili menjelaskan, ayat ini menunjukkan kekhawatiran Nabi
Zakaria akan nasib masa depan ajaran agama
yang beliau usung selepas kepergiannya dari muka bumi.
Lni dikarenakan melihat sanak keluarga dan saudara-saudara
beliau kerap melalaikan urusan agama. Di lain pihak, Nabi
Zakaria sendiri tidak memiliki keturunan yang bisa melanjutkan risalah
yang beliau emban.
Jadi, kekhawatiran akan
nasib perjuanganlah yang menjadi dasar Nabi
Zakaria meminta diberi
seorang putra. Beliau takut, kalau pasca
kematiannya, nurul lslam akan ikut terpendam juga.
Karena itu, beliau meminta diberi keturunan sebagai
penerus apa yang telah beliau rintis.
Terhadap permohonan mulia ini, Allah pun mengijabah doanya.
"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami
memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang
sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia'' (Maryam [19]:
7).
lnilah visi
berketurunan ideal itu; visi
yang berdimensi akhirat bukan hanya dunia saja. Kaum
Muslimin harus memiliki visi yang
demikian dalam berketurunan. Sebab,
visi ini akan menuntut kita untuk serius dan
totalitas dalam mengerahkan segenap upaya untuk
mengantarkan putra-putri kita menjadi pribadi berkarakter
pejuang.
Orangtua yang telah
memiliki visi demikian tidak akan menomorduakan pendidikan anaknya.Yang
ada, mereka siap mengorbankan apapun demi tercapainya visi
tersebut, meski harus mengorbankan diri, apa lagi
sekadar-pekerjaan. Tengoklah ibunda lmam Ahmad
bin Hambali. Saat itu sang bunda, rela memilih untuk menolak
pinangan beberapa laki-laki yang ingin
mempersuntingnya, setelah suaminya meninggal, agar bisa
lebih fokus mendidik dan membina putra kesayangannya.
Padahal, ia masih muda dan memiliki paras yang elok.
Bermodal kesabaran
dan keikhlasan, seorang diri ia
hantarkan sang buah hati ke berbagai majelis ilmu, agar
sang anak mampu menyerap pengetahuan dari
para ulama yang telah teruji kapasitasnya.Pada akhirnya,
pengorbanan itu membuahkan hasil. Sang buah hati
tidak hanya masyhur dengan kefakihannya dalam
berbagai disiplin ilmu, namun juga terkenal akan
kesalehan, ketawadhuan, serta keberaniannya
dalam menyampaikan kebenaran, meski nyawa menjadi
taruhannya.
Mengenai kesan
sang Imam terhadap perjuangan
sang bunda, suatu hari lmam Ahmad
bercerita, "lbundakulah yang telah menuntun diriku
hingga aku hafal al-Qur'an ketika masih
berusia sepuluh tahun.Dia selalu membangunkan aku jauh
lebih awal sebelum waktu shalat Subuh tiba,
memanaskan air untukku karena cuaca di Baghdad sangat
dingin, lalu memakaikan baju dan
kami pun menunaikan shalat semampu kami."
LANGKAH SELANJUTNYA ...
Saat ini, seiring dengan
meluasnya perkembangan teknologi dan informasi, bersamanya arus negatif
juga sangat masif bertebaran. Tentu ini
menjadi tantangan tersendiri bagi putra-putri kita.
Setelah membenahi visi, kita harus memproteksi
diri anak-anak kita sedini mungkin. Mendekatkan mereka
kepada Allah SWT dan menumbuhkan cinta mereka kepada ibadah.
Selain itu, memagari
mereka dari perilaku buruk, akan semakin menguatkan
daya tahan mereka agar tidak mudah terserang virus yang membahayakan masa
depan mereka. lmam al-Ghazali berkata, "jauhkanlah
anak-anak dari kebiasaan buruk, karena mereka akan tumbuh sesuai
dengan kebiasaan mereka." Dan yang pasti,
jangan pernah lupa
untuk mengiringi proses pendidikan putra-putri kita dengan
doa. Sungguh doa orangtua yang saleh terhadap anaknya
tidak ada penghalangnya.
Harapan kita, semoga dengan ikhtiar beserta
tawakal yang kita lakukan,
bisa mengantarkan anak-anak kita
menjadi 'Yahya-Yahya' baru yang akan berjuang Li 'llaahi Kalimatillah (meninggikan kalimat syahadat) di muka bumi ini, sehingga
kelak di akhirat akan datang memberi syafaat
kepada kita. Aamiin. Wallahu a'lamu bish-Shawab.


Comments
Post a Comment